Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerja sama dengan Southeast Asia Museum Services (SEAMS) meluncurkan portal Koleksi Jakarta yang mengintegrasikan ribuan koleksi dari 11 museum di bawah naungan Pemprov DKI.

"Saat ini hampir 1.500 koleksi yang sudah diselesaikan dan masih akan banyak lagi dari koleksi-koleksi seluruh museum di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta," kata Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary di Jakarta, Selasa.

Miftahulloh mengatakan, Koleksi Jakarta yang dapat diakses melalui laman https://koleksijakarta.id, merupakan wujud nyata komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menghadirkan museum yang semakin dekat dengan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi.

"Langkah ini tidak hanya memperluas akses pengetahuan bagi publik, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pengelolaan koleksi yang akuntabel dan terdokumentasi dengan baik," kata dia.

Inovasi tersebut juga menjadi bekal berharga dalam menyambut lima abad Kota Jakarta di tahun depan, sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada sejarah dan budayanya.

Mifathulloh menyampaikan, pencapaian digitalisasi lebih dari 1.000 koleksi tersebut tidak hadir secara instan, melainkan buah manis dari kolaborasi antara SEAMS dan rekan-rekan museum yang ada di Jakarta.

Baca juga: Koleksi Museum Tekstil Jakarta dipamerkan di Korea Selatan

"Saya berharap kolaborasi antara SEAMS, Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Pemprov DKI bukan hanya saat ini. Mudah-mudahan ke depan kita bisa berkolaborasi lagi dalam hal-hal lainnya. Kami sedang mencari pembiayaan kreatif dan inilah salah satunya," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Retno Ayu Lestari dari SEAMS menyampaikan hadirnya portal Koleksi Jakarta salah satunya dilatarbelakangi bahwa belum semua koleksi di museum yang dikelola Pemprov DKI bisa diakses publik.

"Dari pertanyaan itulah, kami berusaha menghadirkan inisiatif Koleksi Jakarta yang merupakan bagian dari Koleksi Kita yang telah berjalan sejak 2024," kata dia.

Ayu menyampaikan, ada beberapa tantangan yang tim hadapi dalam prosesnya antara lain dalam mengumpulkan data koleksi. Menurut dia, banyak pencatatan koleksi yang masih bersifat analog atau masih bergantung pada arsip-arsip lama.

Tantangan lainnya yakni adanya data antarmuseum yang sepenuhnya belum terintegrasi atau terstandardisasi, lalu belum ada sistem manajemen koleksi yang terpadu, serta akses digital bagi publik yang masih terbatas.

"Juga masih terbatasnya pengelolaan dan pemanfaatan advanced teknologi seperti AI," kata dia.

Baca juga: DKI tampilkan 110 koleksi kebaya pada pameran di Museum Tekstil

Baca juga: Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi dengan pameran wastra klasik

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.