Mungkin Jerman kini tidak sedang kehilangan rupa. Namun kehilangan keberanian untuk memilih rupa mana yang ingin dikenakan sebagai identitas ke depannya.
Jakarta (ANTARA) - Bahasa adalah sebuah simbol, oleh sebab itu dalam penggunaannya harus mempunyai keterikatan dan identitas yang menunjukkan fakta sesungguhnya.
Buah pemikiran ini sudah lampau dikemukakan oleh filsuf asal Austria Ludwig Wittgenstein dalam bukunya Tractatus Logico-Philosophicus yang diterbitkan di Jerman pada 1921.
Murid Bertrand Russell tersebut menulis Tractatus Logico-Philosophicus dalam kondisi tengah berperang membela Austria di Perang Dunia 1 pada 1918.
Dari perang tersebut, Wittgenstein mengemukakan temuan mengenai logika filsafat bahasa yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Satu buah pemikiran yang muncul dari Wittgenstein yakni mengenai picture theory (teori gambar) yang disampaikannya bahwa kalimat atau preposisi bermakna adalah gambaran logis dari keadaan fakta di dunia. Bahasa menguraikan fakta layaknya sebuah peta.
Sekarang mari kita bermain-main dalam dunia kata-kata jurnalistik sepak bola yang kerap menempelkan kata istilah merujuk pada tim atau negara tertentu.
Misalkan saja tim nasional Brasil yang familiar dengan sebutan tim Samba, karena identitas kultur yang dilekatkan dengan tarian samba khas negara Brasil.
Atau tim nasional Belanda yang dilekatkan dengan julukan De Oranje (Si Oranye) merujuk pada warna baju kebesaran yang digunakan oleh para pemain.
Kemudian ada Inggris yang dijuluki sebagai The Three Lions (Tiga Singa) merujuk pada logo kebesaran dari asosiasi sepak bola Inggris yang mempunyai lambang tiga singa.
Persoalan pelik justru menimpa tim nasional Jerman yang kehilangan identitas atau dalam bahasa teori gambar Wittgenstein tidak dapat menemukan "gambaran" logis.
Julukan tim nasional di berbagai negara lahir dari identitas yang konkret (budaya, warna, lambang, atau sejarah). Namun sejatinya timnas Jerman seperti seorang bocah yang masih mencari jati diri representasi bahasa akan dirinya sendiri.
Dalam kerangka berpikir Wittgenstein, Jerman yang sebelumnya mendapatkan julukan Die Mannscaft mengalami problem representasi.
Die Mannscaft yang berasal dari bahasa Jerman berarti sebuah tim atau regu. Penggunaan istilah ini seperti kehilangan simbol dan gambaran yang tidak memiliki keterikatan langsung dengan fakta yang membedakan Jerman dari negara lain.
Padahal Jerman secara historis memiliki identitas yang sangat kuat untuk dijadikan simbol karena merupakan salah satu negara yang kaya akan akar dan kultur budaya.
Penggunaan istilah Die Mannscaft juga resmi dihapus oleh Federasi Sepak Bola Jerman atau DFB pada Juli 2022 silam karena dianggap terlalu arogan, terlalu korporat dan kurang dihormati oleh penggemar lokal maupun pejabat sepak bola. Meskipun istilah ini sudah sangat terkenal secara internasional.
Penghapusan istilah yang diperkenalkan sejak tahun 2015 semenjak Jerman menjadi juara di Piala Dunia 2014 ini juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi pelik Jerman yang selalu gagal lolos dari jurang fase grup pada Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022.
Istilah Die Mannscaft kemudian dihapuskan oleh DFB meskipun terdapat sejumlah media internasional tak terkecuali media-media Indonesia yang tetap mempertahankan istilah tersebut dalam kepenulisan jurnalistiknya.
Kembali ke logika filsafat bahasa Wittgenstein, terkadang dalam kasus penggunaan istilah julukan ke timnas Jerman kita masih bertindak begitu sembrono.
Misalkan saja penggunaan istilah Der Panzer yang diartikan sebagai tim Panzer. Padahal istilah tersebut seperti sedang mengkerdilkan Jerman karena Panzer merujuk pada kendaraan tank dari tentara NAZI pada Perang Dunia II.
Jerman sekarang adalah tim yang terbentuk dengan latar historis antara penggabungan Jerman Barat dan Jerman Timur. Rasanya kurang elok jika kita menempelkan istilah Der Panzer kepada Jerman saat ini.
Konstruksi media asing yang tetap melekatkan historis Perang Dunia II kepada Jerman merupakan konstruksi labeling yang tidak patut digunakan karena DFB sebagai asosiasi sepak bola resmi tidak pernah menggunakan istilah tersebut.
Baca juga: Paraguay singkirkan Jerman lewat drama adu penalti
Baca juga: Joshua Kimmich akui Jerman pantas kalah dari Ekuador
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.