Kelantan terkenal bukan hanya karena makanan dan budayanya, tetapi juga karena masyarakatnya yang ramah

Jakarta (ANTARA) - Ada sebuah peribahasa Melayu yang berbunyi, "Tak kenal maka tak cinta." Barangkali, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan pengalaman pertama menginjakkan kaki di Kelantan, negara bagian di pantai timur Malaysia yang kerap luput dari radar wisatawan Indonesia.

Bagi banyak orang, Malaysia identik dengan Kuala Lumpur, Melaka, atau Penang. Namun, Kelantan menawarkan pengalaman yang berbeda. Di sini, nuansa Melayu terasa begitu kental, mulai dari bahasa, budaya, kuliner, hingga keramahan masyarakatnya

Kini perjalanan menuju Kelantan semakin mudah. Jika dahulu pelancong dari Indonesia harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur, kini AirAsia menyediakan penerbangan langsung menuju Kota Bharu, ibu kota Kelantan.

Begitu roda pesawat menyentuh landasan, suasana yang terasa bukanlah hiruk pikuk kota metropolitan, melainkan kehangatan sebuah daerah yang masih memegang erat tradisi dan budaya.

Jika ada satu tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Bharu, maka jawabannya adalah Pasar Siti Khadijah.

Terletak di pusat Kota Bharu, Pasar Siti Khadijah bukan sekadar pasar tradisional. Ia adalah denyut nadi kehidupan masyarakat Kelantan, kuliner, dan keramahan bertemu dalam satu ruang yang sama.

Dari luar, bangunan pasar berbentuk segi delapan ini tampak seperti pasar modern pada umumnya. Namun, begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh ledakan warna, aroma rempah-rempah, suara tawar-menawar, serta senyum ramah para pedagang yang sebagian besar adalah perempuan.

Pasar ini memang dinamai Siti Khadijah, merujuk pada istri Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai seorang saudagar sukses. Nama tersebut dipilih sebagai penghormatan terhadap dominasi perempuan dalam aktivitas perdagangan di pasar ini.

Berkeliling di Pasar Siti Khadijah seperti berjalan menembus lapisan kehidupan masyarakat Kelantan.

Di lantai dasar, pengunjung akan menemukan berbagai bahan pangan segar. Ikan, ayam, daging, sayur-sayuran, rempah-rempah, hingga aneka hasil laut tersusun rapi di lapak-lapak pedagang.

Aroma jahe, kunyit, cabai, dan berbagai bumbu khas Melayu bercampur menjadi satu, menciptakan pengalaman yang memanjakan indra penciuman.

Naik ke lantai berikutnya, suasana berubah menjadi surga bagi pecinta makanan tradisional. Berbagai kudapan khas Kelantan tersaji berderet. Ada kerupuk ikan, serunding daging dan ayam, aneka kue tradisional Melayu, hingga makanan siap santap yang menggoda selera.

Di salah satu sudut, seorang pedagang dengan ramah menawarkan potongan camilan kepada pengunjung.

"Dari Indonesia? Coba ini dulu," katanya sambil menyodorkan sepotong kudapan tradisional tanpa meminta bayaran.

Keramahan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.