Banda Aceh (ANTARA) - Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Mujiburrahman menyatakan kehadiran anjungan air minum Sayyid Osman Hulusi Efendi Hazretleri di kampus itu bukan hanya sebagai fasilitas publik, melainkan bagian dari simbol histori Aceh-Turki.

"Bangunan berarsitektur Ottoman ini bukan sekadar infrastruktur penyedia air minum gratis, melainkan simbol persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan antara dua bangsa yang telah terhubung sejak berabad-abad lalu," kata Mujiburrahman di Darussalam, Banda Aceh, Selasa.

Di sela peresmian anjungan air minum yang dibangun Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi bersama Somuncu Baba Education, Culture and Social Aid Organization dengan dukungan Yayasan Tarara Global Humanity, penyediaan air minum merupakan salah satu bentuk sedekah yang memberi manfaat luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Baca juga: Mahasiswa UIN Ar-Raniry kaji 1.934 manuskrip perkuat studi Filologi

“Fasilitas air minum di kampus UIN Ar-Raniry ini juga merupakan proyek pertama berskala internasional yang dibangun di luar Turki,” katanya.

Ia mengatakan air minum yang disediakan diolah menggunakan teknologi reverse osmosis (RO), sehingga dapat langsung dikonsumsi. Kampus juga menyiapkan sistem penampungan berkapasitas 10 meter kubik yang terhubung dengan jaringan PDAM untuk menjaga pasokan air.

"Proyek ini tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh civitas akademika dan masyarakat," ujarnya.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat diperluas ke bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pengabdian masyarakat di masa mendatang.

Sementara itu, anggota Dewan Pengawas Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi, Ali Gençal mengatakan pembangunan anjungan air minum tersebut merupakan bagian dari tradisi pelayanan sosial yang diwariskan Sayyid Osman Hulusi Efendi.

Baca juga: UIN Ar-Raniry Aceh salurkan 1.600 paket tradisi meugang bantuan Pemerintah UEA

Baca juga: UIN Ar-Raniry usul bantuan untuk 3.531 mahasiswa terdampak banjir Aceh

Menurut Ali, penyediaan akses air bersih memiliki makna penting dalam ajaran Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sedekah terbaik adalah memberi minum kepada sesama.

Ia mengatakan proyek tersebut menjadi wujud persaudaraan yang terus terjalin antara Indonesia dan Turki, khususnya dengan masyarakat Aceh yang memiliki ikatan sejarah panjang dengan negeri tersebut.

Bangunan itu mengadopsi arsitektur klasik air mancur Ottoman dengan delapan keran, sistem pemurnian air berkapasitas 3.000 liter, serta prasasti dalam empat bahasa, yakni Indonesia, Turki, Inggris, dan Arab.

Pewarta: M Ifdhal
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.