Washington (ANTARA) - Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance mengatakan penyangkalan Iran secara terbuka soal pembicaraan yang sedang berlangsung merupakan "taktik negosiasi Persia" yang disengaja.

Dalam acara The Michael Knowles Show, yang dirilis Selasa (30/6), Vance juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan teknis antara AS dan Iran masih berlangsung.

"Ada pembicaraan yang telah dijadwalkan, pembicaraan yang benar-benar bersifat teknis, sebagai kelanjutan dari negosiasi yang telah kami lakukan sebelumnya. Pembicaraan itu pasti akan berlangsung besok," kata Vance.

Dia mengatakan pernyataan publik Teheran itu menarik sekaligus membuat frustrasi. Menurut dia, para pejabat Iran membantah adanya perundingan damai, tetapi di saat yang sama mengakui adanya pembicaraan teknis.

"Mereka akan berkata, tidak ada perundingan damai yang sedang berlangsung, tetapi ada pembicaraan teknis antara Amerika Serikat dan Iran mengenai kesepakatan damai. Itu adalah taktik negosiasi ala Persia dan gaya retorika ala Persia yang tidak saya pahami," kata Vance.

Baca juga: Vance sebut kini lebih banyak kapal minyak melintasi Selat Hormuz

Menanggapi kritik terhadap kebijakan pemerintah AS dalam perundingannya dengan Iran, Vance membela pendekatan yang dilakukan Presiden AS Donald Trump.

Menurut Vance, Trump telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan kekuatan militer jika diperlukan, tetapi hanya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

"Sikap mereka hanyalah menjatuhkan bom, menjatuhkan bom, dan menjatuhkan bom; dan mereka tidak benar-benar bisa menjelaskan untuk apa," kata Vance menyindir para kritikus.

Baca juga: AS belum cairkan dana Iran meski ada Nota Kesepahaman

Presiden Trump mengatakan bersedia menjatuhkan bom, lanjut Vance, dan dengan jelas menunjukkan bersedia menjatuhkan bom.

"Tetapi hanya jika hal itu mendukung suatu tujuan jelas," tambahnya.

Dalam wawancara terpisah dengan FOX News, Vance mengatakan AS lebih fokus pada tindakan Iran daripada penyataan-pernyataan para pejabatnya. Menurut Vance, kemajuan yang berarti dalam negosiasi memerlukan Iran untuk menawarkan "konsesi nyata".

"Kami tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan oleh pihak Iran. Kami jauh lebih peduli dengan apa yang mereka lakukan. Tentu saja, kami melihat beberapa tanda positif. Kami juga melihat beberapa tanda negatif. Yang disampaikan presiden kepada kami adalah untuk menangani masalah ini, melihat ke mana arah negosiasi ini, dan jika negosiasi tersebut tidak menghasilkan penyelesaian yang sukses melalui jalur diplomatik, maka kami masih memiliki banyak opsi," jelasnya.

Baca juga: Iran sebut penjualan minyak lebih mudah usai kesepakatan dengan AS

Sementara itu, utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner bertolak ke Doha setelah Trump mengumumkan pada Senin (29/6) bahwa Iran meminta pertemuan di ibu kota Qatar tersebut.

Iran tetap membantah ada pembicaraan langsung yang dijadwalkan dengan AS. Meski demikian, Iran menyatakan konsultasi dengan pihak-pihak perantara masih terus berlangsung.

"Apa yang akan dilakukan di Doha besok (Rabu) adalah pembahasan mengenai pelaksanaan klausul-klausul nota kesepahaman (MoU), termasuk pembebasan aset Iran yang dibekukan, yang saat ini berada di Qatar," kata Juru Bicara Kementerian Luar Ngeri Iran Esmaeil Baghaei.

Baca juga: Menkeu AS klaim Iran belum bisa jual minyak ke pembeli selain China

Secara terpisah, seorang pejabat senior AS mengatakan Witkoff dan Kushner bertemu Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani bersama para mediator lain di Doha, Selasa (30/6), untuk melanjutkan dialog regional mengenai implementasi kesepakatan tersebut.

Nota kesepahaman antara AS dan Iran, yang dimediasi Pakistan, mulai berlaku pada Kamis (18/6) setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

MoU tersebut menyediakan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada akhir Februari serta menyelesaikan berbagai masalah yang belum terselesaikan antara AS dan Iran melalui jalur negosiasi.

Isu-isu tersebut mencakup penghentian permusuhan, pelonggaran sanksi, program nuklir Iran, pembukaan penuh kembali Selat Hormuz, serta pengaturan keamanan regional yang lebih luas.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Iran bahas pencairan aset dengan Qatar, tegaskan tak temui AS

Baca juga: Iran dan AS sepakati jalur komunikasi politik baru

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.