Kabupaten Bogor (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan secara adil dan tidak boleh dijadikan alat untuk melayani kepentingan kelompok tertentu maupun kepentingan politik.

Presiden Prabowo mengatakan bahwa hukum harus menjadi tempat berlindung bagi masyarakat, terutama kelompok yang lemah. Menurutnya, sebagai negara hukum, pemerintah harus memastikan dapat memberikan perlindungan dan rasa keadilan untuk rakyatnya.

"Hukum harus menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lemah. Hukum tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hukum tidak boleh menjadi alat mereka-mereka yang punya uang," ujar Presiden Prabowo pada upacara peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 di Satuan Latihan (Satlat) Brimob, Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Baca juga: Presiden ingatkan Polri jaga demokrasi dan jamin penyampaian pendapat

Presiden Prabowo mengingatkan agar aparat penegak hukum tidak menjadikan hukum sebagai instrumen untuk kepentingan politik atau kelompok tertentu.

Ia juga menekankan agar para penegak hukum tidak melakukan diskriminasi serta penyalahgunaan wewenang.

"Hukum tidak boleh menjadi alat balas dendam politik. Hukum tidak boleh digunakan untuk kepentingan satu kelompok manapun. Tidak boleh ada kriminalisasi. Tidak boleh ada penyalahgunaan wewenang," tegas Presiden Prabowo.

Selain itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa negara harus memastikan masyarakat yang lemah memperoleh perlindungan, sementara bagi masyarakat yang sedang mencari keadilan bisa mendapatkan pelayanan yang semestinya.

"Saya tekankan kembali. Rakyat paling lemah harus mendapat perlindungan. Masyarakat yang mencari kebenaran dan keadilan harus dilayani. Orang yang benar harus merasa aman. Orang yang bersalah harus bertanggung jawab atas perbuatannya," imbuh Presiden Prabowo.

Baca juga: Pesan Prabowo untuk Polri: Jaga kepercayaan rakyat hingga kuasai AI

Baca juga: Prabowo: Stabilitas keamanan nasional tetap terjaga baik

Baca juga: Prabowo tegaskan peran strategis Polri jaga ketertiban rakyat

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia / Aditya Ramadhan
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.