Kemudahan akses untuk menggunakan kecerdasan buatan dan fasilitas kecerdasan buatan yang makin populer ternyata juga memperbanyak orang membuat modus baru kejahatan

Jakarta (ANTARA) - Pada tahun 2024, saya turut terlibat bersama Komdigi dan BRIN dalam Kajian Transformasi Digital Layanan Publik Pemerintahan Daerah serta mitigasi kebijakan terhadap potensi penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI).

Kajian ini berangkat dari realitas geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang menuntut tata kelola pelayanan publik yang adaptif, inklusif, dan berbasis teknologi digital.

Hasil riset menunjukkan bahwa transformasi digital tidak dapat direduksi semata pada pembangunan infrastruktur teknologi informasi. Tantangan yang justru semakin mengemuka adalah kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berpendidikan tinggi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.

Tanpa fondasi SDM yang berintegritas dan berorientasi pada kepentingan publik, digitalisasi berisiko menjadi sekadar modernisasi prosedural tanpa nilai strategis dalam memperkuat kualitas pelayanan publik dan kohesi kebangsaan.

Di tengah animo kita yang begitu tinggi menyiapkan generasi bangsa yang tangguh beradaptasi dengan tantangan global, ternyata kita juga harus menghadapi paradoks. Kalau kita melihat realita di lapangan, media sosial kita saat ini tidaklah baik-baik saja. Begitu masifnya inovasi teknologi, ternyata tidak hanya memberikan multiplier effect yang positif, namun juga negatif.

Kita bisa lihat, hari ini, masifnya penyalahgunaan AI seperti penghinaan terhadap seseorang, pornografi yang semakin ekstrem, pelecehan seksual terhadap anak di media sosial, artikel ilmiah yang semakin jauh dari integritas, penyalahgunaan aplikasi AI untuk manipulasi data, judi online yang begitu masif, hingga persoalan-persoalan lainnya yang juga bisa mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Kemudahan akses untuk menggunakan kecerdasan buatan dan fasilitas kecerdasan buatan yang makin populer ternyata juga memperbanyak orang membuat modus baru kejahatan. Kerumunan orang membahas kecerdasan buatan tentu menambah melek orang tentang teknologi ini, namun pada saat bersamaan di antara kerumunan itu terdapat orang yang berniat jahat.

Artinya apa? Menghadapi dinamika abad ke-21 dan mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas tahun 2045, kita dihadapkan dengan berbagai tantangan yang begitu kompleks, bagaimana menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul secara teknologi dan inovasi, tetapi juga berakar kuat pada jati diri bangsa.

Di tengah euforia transformasi digital dan ekonomi berbasis pengetahuan, kita tidak boleh kehilangan arah kebangsaan yang selama ini menjadi perekat keindonesiaan. Di sinilah pentingnya membangun SDM berwawasan kebangsaan, terutama generasi muda yang kokoh dalam karakter, tangguh dalam kompetensi, dan berakar pada empat konsensus kebangsaan yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar NRI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

Transformasi digital

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.