Dia tampak seperti pelatih Italia, bermain agar tidak kalah
Jakarta (ANTARA) - Sudah 12 kali tampil di Piala Dunia, tetapi tim nasional Belanda belum mampu menjuarainya.
Selalu berhasil melewati babak grup setiap kali tampil di Piala Dunia, prestasi terjauh Belanda adalah menjadi finalis pada tiga edisi, yaitu pada 1974 di Jerman Barat, 1978 di Argentina, dan 2010 di Afrika Selatan.
Di tahun ini, Belanda terhenti di babak 32 besar, sebuah fase gugur baru yang dikenalkan FIFA karena negara peserta yang bertambah menjadi 48 dari 32 tim.
Pencapaian ini adalah sebuah kemunduran untuk Belanda, mengingat pada edisi sebelumnya mereka mencapai perempat final ketika akhirnya disingkirkan Argentina, negara yang akhirnya menjadi juara.
Perbedaan mentalitas
Antiklimaks. Itulah kata yang tepat menggambarkan perjalanan Belanda di Piala Dunia 2026.
Setelah bermain atraktif dalam tiga laga di Grup F dan berhasil mencetak minimal dua gol setiap laganya, penampilan mereka justru merosot saat memasuki babak gugur.
Maroko, yang datang sebagai runner-up Grup C, menantang Oranye yang berstatus sebagai juara Grup F. Dua-duanya memiliki tujuh poin, dengan dua kemenangan dan satu hasil seri.
Singa Atlas, begitulah julukan Maroko, menjadi lawan sepadan Belanda pada babak 32 besar di Stadion Monterrey, Meksiko, Selasa. Di atas kertas, laga ini diprediksi akan berlangsung terbuka dengan jual beli serangan yang memanjakan mata. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan berbeda.
Baca juga: Maroko melaju ke 16 besar usai sisihkan Belanda lewat adu penalti
Maroko datang membawa identitas yang jelas, yang menjadi ciri khas permainan mereka selama ini dengan formasi 4-2-3-1. Sementara Belanda, yang lebih produktif dari Maroko di babak grup, malah kehilangan jati dirinya.
Sang pelatih Ronald Koeman memilih pendekatan yang lebih aman, lebih bermain bertahan, yang bukan "Belanda" sama sekali, yang selama ini dikenal dengan pendekatan "Total Football"-nya.
Formasi 5-2-3 dipilih, dengan pendekatan permainan ini akan berubah menjadi 3-4-3 kala menyerang.
Tijjani Reijnders, yang sebelumnya selalu bermain sebagai starter di lini tengah bersama Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch dalam formasi 4-3-3, dicadangkan Koeman untuk pertama kalinya.
Sebagai gantinya, Koeman memasukkan Nathan Ake sebagai tambahan di barisan pertahanan. Bek Manchester City itu berdiri sejajar dengan Virgil van Dijk dan Jan Paul van Hecke. Micky van de Ven bermain lebih melebar sebagai fullback kiri, sementara di sisi kanan tetap dihuni Denzel Dumfries.
Ya, Belanda memang mencetak gol lebih dulu pada menit ke-72 melalui gol Cody Gakpo. Namun, gol ini tak lahir dari pendekatan yang dilakukan Koeman sejak awal, melainkan tepat setelah ia mengembalikan kekuatan utama Oranye dengan memainkan formasi 4-3-3.
Wout Weghorst, yang baru dimasukkan setelah hydration break, di momen ini memberikan dampak instan dengan memberikan pre-assist kepada Crycensio Summerville yang kemudian memberikan assist kepada Gakpo.
Belanda hampir keluar sebagai pemenang, namun takdir di Monterrey lebih berpihak kepada mereka yang bermain lebih berani.
Issa Diop maju ke kotak penalti untuk menyelesaikan umpan Chemsdine Talbi pada menit ke-90+1. Papan skor berubah menjadi 1-1. Gol ini memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu, lalu ke adu penalti. Di babak adu tos-tosan ini, kebahagiaan hinggap di pihak Maroko lewat Ismael Saibari sebagai penendang penentu.
Meski terlihat mampu mengimbangi Maroko sampai babak terakhir, sejatinya Belanda-lah yang merugi. Pasalnya, sepanjang laga mereka tak bisa berbuat banyak, tak seperti yang mereka lakukan di babak fase grup.
Statistik Sofascore memperlihatkan laga melawan Maroko adalah penguasaan bola paling sedikit yang dimiliki Belanda di Piala Dunia 2026, dengan jumlah 30 persen. Rendahnya penguasaan bola ini membuat intensitas serangan mereka juga menurun, dengan hanya melakukan enam tembakan saja.
Padahal, dari tiga laga sebelumnya, Belanda dikenal selalu "mendikte" lawan-lawannya. Rata-rata jumlah penguasaan bola sebesar 60,6 persen, yang dibarengi dengan 13,3 tembakan setiap laga menjadi bukti.
Dengan kata lain, perubahan pendekatan yang dilakukan Koeman justru membuat Belanda menjauh dari kekuatan terbaiknya. Artinya, jika pendekatan yang sama tetap dilakukan, mungkin saja peluang menang untuk Belanda akan lebih besar. Ditambah, momentum sedang mereka pegang setelah menjadi tim tersubur di babak grup bersama Jerman dan Prancis.
Baca juga: Mazraoui sebut kemenangan atas Belanda pengakuan besar bagi Maroko
Baca juga: Eustaquio: Kanada siap hadapi Belanda atau Maroko di 16 besar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.