Banda Aceh (ANTARA) - Universitas Syiah Kuala menerima bantuan empat unit dump truck dan empat unit ekskavator dengan total mencapai Rp7,5 miliar dari Pemerintah Jepang untuk mendukung percepatan penanganan wilayah terdampak bencana di Aceh.
"Bantuan ini akan langsung kami distribusi untuk mendukung penanganan wilayah terdampak bencana di Aceh. Kedekatan masyarakat Aceh dan Jepang sudah teruji oleh waktu, dan Jepang selalu hadir mendampingi kita dalam situasi sulit,” kata Ketua Pembina Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Prof Marwan di Banda Aceh, Rabu.
Ia menjelaskan bantuan lewat program Grant Assistance for Grassroots Human Security Project, Konsulat Jenderal Jepang di Medan tersebut bukan hanya sekadar alat operasional, melainkan simbol ikatan emosional antara Aceh dan Jepang yang telah terjalin erat sejak masa pascatsunami 2004.
“Kami telah berkoordinasi dengan tim pelaksana agar unit-unit ini dapat segera beroperasi di lapangan," ujar Prof. Marwan.
Baca juga: Peneliti USK: Banjir dan longsor tekan produksi kopi Gayo
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari menekankan bahwa peran institusi pendidikan sangat vital dalam memastikan keberlanjutan program kemanusiaan tersebut.
"Kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Jepang melalui Konsulat Jenderal di Medan. Bantuan ini adalah aset berharga untuk meningkatkan ketangguhan Aceh terhadap bencana. Bagi USK, hal ini tidak hanya memperkuat kemampuan respons di lapangan, tetapi juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan civitas akademika untuk lebih terlibat aktif dalam praktik mitigasi bencana yang nyata dan berdampak luas bagi masyarakat," kata Dr. Rina.
Sementara itu, Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori, menegaskan bahwa bantuan ini adalah wujud nyata kepedulian masyarakat Jepang terhadap Indonesia, khususnya Aceh yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam.
"Bencana alam tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi. Investasi dalam kesiapsiagaan adalah langkah krusial. Kami percaya, peningkatan kemampuan respons yang cepat dapat menekan dampak kerugian dan mempercepat pemulihan,” katanya.
Pihaknya berharap delapan unit bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dipelihara dengan baik demi kepentingan masyarakat luas.
Baca juga: USK: Silvofishery jadi solusi merawat ekosistem mangrove di Aceh
Baca juga: Mendiktisaintek: USK harus jadi pusat riset pengembangan potensi Aceh
Pewarta: M Ifdhal
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.