Jakarta (ANTARA) - Belarus begitu jauh dari Indonesia. Dipisahkan jarak ribuan kilometer, berbeda iklim, bahasa, hingga sejarah. Namun, dalam geopolitik modern, jarak geografis semakin sering dikalahkan oleh kepentingan strategis.

Dunia kita hari ini tidak lagi hanya dihubungkan oleh laut, melainkan juga oleh rantai pasok, teknologi, logistik, dan kepentingan ekonomi.

Karena itu, hadirnya Roadmap for Bilateral Cooperation 2026–2030 antara Indonesia dan Belarus layak dibaca lebih dalam. Peta jalan ini bukan sekadar dokumen kerja sama bilateral, melainkan cerminan bagaimana Indonesia mulai memberi perhatian lebih besar kepada kawasan Eurasia sebagai ruang baru bagi diplomasi dan ekonomi.

Selama ini, orientasi perdagangan Indonesia cenderung terkonsentrasi pada mitra-mitra utama seperti China, Jepang, Amerika Serikat (AS), negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa. Kawasan Eurasia sering berada di luar radar publik, meski secara geografis dan ekonomi kawasan itu menyimpan arti strategis yang tidak kecil.

Belarus menjadi menarik bukan semata karena hubungan bilateralnya dengan Indonesia, tetapi karena posisinya sebagai salah satu anggota penting Uni Ekonomi Eurasia.

Artinya, jalinan hubungan Indonesia dengan Belarus juga membuka pintu untuk memahami dinamika ekonomi kawasan yang menghubungkan Eropa dan Asia dalam satu ruang perdagangan yang semakin terintegrasi.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.