Hornbills menjadi contoh terbaru bahwa perubahan dalam satu musim bukan sesuatu yang mustahil ketika dibangun dengan arah yang jelas. Dari tim yang gagal menembus playoff, mereka berubah menjadi juara liga.
Jakarta (ANTARA) - Di atas lantai GOR Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro Kuningan, Jakarta, akhir Juni lalu, para pemain Bogor Hornbills saling berpelukan sesaat setelah buzzer terakhir berbunyi.
Skor 64-61 atas Pelita Jaya Jakarta memastikan satu hal yang setahun lalu mungkin belum banyak dibayangkan: Hornbills resmi menjadi juara Indonesian Basketball League (IBL) GoPay 2026.
Trofi liga kembali berganti pemilik. Untuk musim kedua berturut-turut, tim tamu merayakan gelar juara dengan latar stadion bertuliskan Pelita Jaya Arena.
Bagi Hornbills, kemenangan itu menutup perjalanan yang berubah drastis hanya dalam waktu satu musim. Pada IBL 2025 mereka bahkan gagal mencapai babak playoff setelah finis di peringkat ke-10. Tidak banyak yang menempatkan mereka sebagai kandidat juara ketika musim 2026 dimulai.
Perubahan itu datang bersama pelatih asal Spanyol, Cesar Camara. Sejak awal musim, ia tidak menyembunyikan targetnya. Dia datang ke Bogor bukan untuk membawa tim hanya lolos babak playoff, tapi membangun budaya kerja yang mampu mengantarkan Hornbills menjadi juara.
Hasilnya mulai terlihat sepanjang musim reguler. Hornbills tampil lebih konsisten dibanding musim sebelumnya dan menutup kompetisi di posisi ketiga klasemen dengan rekor 14 kemenangan dan enam kekalahan. Namun jalan menuju gelar tidak pernah mulus.
Mereka sempat kalah satu angka dari Kesatria Bengawan Solo pada gim pertama putaran pertama playoff. Situasi itu memaksa Hornbills merespons ketika seri bergeser ke Bogor. Dua kemenangan berikutnya membawa mereka lolos ke semifinal.
Momentum itu berlanjut saat menghadapi Satria Muda Pertamina. Hornbills menutup seri dengan kemenangan dramatis 82-79 pada gim keempat, kedudukan 3-1, sekaligus memastikan tiket ke final.
Menariknya, Cesar Camara sebelumnya pernah menjadi bagian dari Satria Muda selama dua musim. Asisten pelatih, dan bahkan sempat menangani Satria Muda sebagai kepala pelatih di kompetisi IBL All Indonesian 2025.
Final kemudian menghadapkan Hornbills dengan Pelita Jaya, tim yang dalam beberapa tahun terakhir hampir selalu menjadi ukuran kekuatan tertinggi di IBL, karena langganan final selama enam tahun.
Musim ini juga menjadi final pertama yang menggunakan format best of five. Jika sebelumnya sebuah tim hanya membutuhkan dua kemenangan untuk menjadi juara, kini butuh tiga kali menang dari lima pertandingan yang menuntut konsistensi.
Seri final memperlihatkan bagaimana kedua tim silih berganti mengambil momentum. Pelita Jaya membuka final dengan kemenangan 90-87 sebelum Hornbills membalas telak 83-63 pada gim kedua.
Saat bermain di Bogor, Pelita Jaya kembali merebut keunggulan melalui kemenangan 74-61 pada gim ketiga. Hornbills tidak menyerah dan memaksakan gim penentuan setelah menang 85-72.
Gim kelima menjadi panggung yang berbeda ketika pertandingan kembali ke Jakarta. Meski bukan bermain di hadapan pendukungnya sendiri, Hornbills tampil agresif sejak kuarter pertama. Stephaun Branch dan Travin Thibodeaux langsung membawa timnya unggul 24-11. Keunggulan dua digit itu menjadi modal penting hingga turun minum.
Pelita Jaya sempat mengubah jalannya pertandingan selepas jeda. Tekanan full court press membuat selisih angka perlahan menipis. Kehadiran kembali Jeff Withey juga memperkuat pertahanan di area bawah ring sehingga Hornbills tidak lagi leluasa mencetak poin.
Baca juga: Bogor Hornbills juara IBL 2026
Baca juga: Pelatih Bogor Hornbills klaim pantas juara IBL 2026
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.