Surabaya (ANTARA) - Mangrove selalu menghadirkan dua wajah yang kontras. Dari kejauhan, hamparan hijau itu tampak tenang, menjadi benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi, sekaligus rumah bagi beragam satwa.
Namun, di sela-sela akar napas yang seharusnya menjadi simbol kehidupan, sering kali tersangkut lembaran plastik kusam, kantong kresek robek, hingga berbagai sampah yang datang tanpa diundang.
Ironisnya, sebagian besar sampah itu bukan berasal dari kawasan mangrove sendiri. Arus sungai membawanya dari daratan, sementara gelombang laut mengembalikannya saat pasang. Mangrove akhirnya menjadi titik akhir perjalanan plastik yang gagal dikelola.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sampah plastik bukan lagi sekadar masalah kebersihan kota. Ia telah berubah menjadi ancaman bagi ekosistem, ekonomi masyarakat pesisir, hingga keberlanjutan sumber daya laut.
Di tengah tantangan itu, langkah Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengubah sampah plastik mangrove menjadi bahan bakar menghadirkan cara pandang yang berbeda. Sampah tidak lagi diposisikan sebagai beban semata, melainkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai jika diolah melalui inovasi yang tepat.
Gagasan tersebut memang belum menjadi solusi tunggal bagi persoalan plastik. Namun, ia menawarkan arah baru bahwa pengelolaan sampah memerlukan keberanian untuk keluar dari pendekatan konvensional.
Akar persoalan
Indonesia masih menghadapi persoalan besar dalam pengelolaan sampah plastik. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar. Sebagian berhasil didaur ulang, tetapi tidak sedikit yang berakhir di tempat pembuangan akhir, sungai, hingga laut.
Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) juga menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah menjadi krisis global. Setiap tahun jutaan ton plastik memasuki lautan, mengganggu ekosistem pesisir, mengancam biota laut, bahkan masuk ke rantai makanan manusia dalam bentuk mikroplastik.
Mangrove menjadi salah satu ekosistem yang paling rentan menerima dampaknya. Struktur akar yang rapat memang efektif menangkap sedimen, tetapi pada saat bersamaan juga menjebak berbagai jenis sampah yang terbawa arus.
Akibatnya, akar mangrove kehilangan ruang untuk bernapas secara optimal. Sampah yang menumpuk menghambat pertumbuhan vegetasi, mengurangi kualitas habitat berbagai jenis ikan, kepiting, burung, hingga biota lain yang bergantung pada kawasan tersebut.
Surabaya, sesungguhnya telah lama dikenal sebagai salah satu kota yang serius membangun kawasan mangrove. Berbagai upaya rehabilitasi dilakukan untuk memperkuat perlindungan pesisir, sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon. Namun, keberhasilan rehabilitasi tidak akan maksimal apabila tekanan sampah plastik terus berlangsung.
Di sinilah menariknya pendekatan BRIDA. Sasaran teknologi pirolisis bukan botol plastik yang masih memiliki nilai ekonomi, melainkan kantong kresek dan plastik rusak yang selama ini hampir tidak diminati industri daur ulang.
Artinya, inovasi tersebut menyasar mata rantai yang selama ini menjadi titik lemah pengelolaan sampah nasional, yakni limbah plastik bernilai rendah yang biasanya hanya dibuang atau dibakar secara terbuka.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.