Peristiwa Venezuela menjadi pengingat bahwa skenario earthquake doublet (gempa kembar) tidak dapat diabaikan dalam kajian mitigasi bencana
Makassar (ANTARA) - Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) menyarankan Pemerintah Indonesia perlu berkaca dari kejadian gempa kembar di Venezuela terjadi dua kali kejadian pada 24 Juni 2026, dengan memperkuat mitigasi bencana serta antisipasi tidak hanya pada penanganan pascagempa.
"Peristiwa Venezuela menjadi pengingat bahwa skenario earthquake doublet (gempa kembar) tidak dapat diabaikan dalam kajian mitigasi bencana," ujar Direktur PSGS Doktor Ardy Arsad menekankan di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.
Menurut dia, gempa besar yang terjadi hampir bersamaan merupakan fenomena yang sangat jarang dijumpai dalam sejarah seismologi. Di Venezuela diguncang gempa berkekuatan 7,2 Mw (Magnitudo Momen) disusul gempa berkekuatan 7,5 Mw hanya berdurasi 39 detik kemudian pada hari yang sama.
Melihat fenomena itu, menurut dia, Indonesia juga berada pada lingkungan tektonik yang sangat aktif, dengan sumber gempa yang berasal dari zona subduksi, sesar geser aktif, maupun sistem patahan bersegmen yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya pascagempa di Palu, Sulawesi Tengah.
Baca juga: PSGS ungkap kompleksitas gempa magnitudo 7,4 di Maluku
Pertanyaan penting yang perlu diajukan, kata dia, apakah Indonesia juga berpotensi mengalami earthquake doublet secara teoritis, jawabannya dapat memungkinkan dan berpotensi terjadi.
"Sebab, beberapa sistem sesar aktif di Indonesia, seperti Sesar Palu–Koro, Sesar Sumatra, maupun zona subduksi Sunda, memiliki karakteristik rupture bersegmen (segmented fault rupture) yang berpotensi menghasilkan pelepasan energi secara berurutan," tuturnya.
Selain itu penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa rupture gempa besar tidak selalu berhenti pada satu segmen, tetapi dapat merambat ke segmen lain (multi-segment rupture), sehingga menghasilkan durasi guncangan yang lebih panjang dan kerusakan yang lebih luas.
Fenomena tersebut membuka ruang penelitian baru mengenai perilaku bangunan terhadap multiple strong ground motions, terutama pada wilayah dekat sumber gempa.
Baca juga: PSGS dorong pemenuhan mitigasi dampak gempa Mamuju
Kajiannya, kata dia, mengenai cumulative damage, yaitu akumulasi kerusakan akibat dua atau lebih episode guncangan kuat yang terjadi hampir bersamaan, yang relatif masih terbatas. Padahal mekanisme ini dapat menyebabkan penurunan kekakuan, degradasi kapasitas, hingga keruntuhan struktur meskipun bangunan telah memenuhi persyaratan desain.
Implikasinya terhadap peraturan ketahanan gempa di Indonesia, menurutnya, juga perlu mendapat perhatian. SNI 1726:2019 pada dasarnya dikembangkan berdasarkan representasi satu kejadian gempa rencana (single design earthquake).
Pendekatan tersebut telah memberikan tingkat keselamatan yang baik untuk sebagian besar kondisi, namun fenomena gempa kembar menunjukkan adanya skenario pembebanan ekstrem yang belum banyak dievaluasi secara khusus.
Maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah dua episode guncangan kuat yang terjadi secara berurutan dapat meningkatkan cumulative damage pada struktur.
"Serta bagaimana pengaruhnya terhadap bangunan penting, seperti rumah sakit, jembatan, bendungan, pembangkit listrik, pelabuhan, dan fasilitas vital lainnya," papar Ardi.
Baca juga: Lebih dari 6.400 orang diselamatkan pasca-gempa di Venezuela
Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.