Jadi sekolah hadir bukan hanya sebagai tempat, namun sebagai ekosistem pembelajaran yang mampu bergerak mendekati kebutuhan para murid
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan model konsorsium memastikan kegiatan pembelajaran berjalan fleksibel guna mengembalikan anak tidak sekolah ke dalam layanan pendidikan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen Suharti mengatakan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia masih terbilang tinggi, yakni sebanyak empat juta anak dengan rentang usia 7-18 tahun.
“ATS dengan kelompok usia 16-18 tahun ini merupakan kelompok usia kritis. Karena jika tidak segera dijangkau, mereka berpotensi semakin jauh dari layanan pendidikan. Dan mereka akan lebih cepat masuk ke pasar kerja tanpa keterampilan memadai. Mengembalikan ATS bukan sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah, namun juga investasi sosial,” kata Suharti dalam webinar bertajuk "SPMB PJJ Gerakan Mengembalikan ATS Kembali Bersekolah melalui PJJ" di Jakarta pada Jumat.
Baca juga: Kemendikdasmen: Program PJJ jangkau anak tidak sekolah terutama di 3T
Ia menyebutkan beberapa alasan yang menyebabkan tingginya ATS ialah keterbatasan ekonomi, keterbatasan akses untuk menjangkau layanan pendidikan formal, hingga faktor kondisi sosial yang menyebabkan peserta didik harus keluar dari sistem dan layanan pendidikan formal.
Karena itu pihaknya menyelenggarakan Program PJJ dengan model konsorsium, yakni mengkolaborasikan sekolah induk penyelenggara PJJ dengan sekolah mitra.
Ia menjelaskan sekolah induk akan berperan sebagai pengelola utama penyelenggaraan akademik, pengembangan pembelajaran, pengelolaan sistem digital, serta penjaminan mutu layanan PJJ.
Adapun sekolah mitra, lanjutnya, menjadi simpul layanan pembelajaran yang lebih dekat dengan keberadaan peserta didik.
Baca juga: Kemendikdasmen: PJJ pendidikan menengah harapan baru tekan ATS
“Dengan pola ini kami ingin memastikan layanan pendidikan tidak lagi dibatasi oleh bangunan sekolah dan ruang kelas. Contohnya anak-anak yang ikut orang tuanya tinggal di ladang/perkebunan sehingga tidak bisa mengakses sekolah menengah formal, maka mereka dapat belajar di Community Learning Center (CLC),” ujarnya.
Sejauh ini pihaknya mencatat pelaksanaan PJJ tahun ini siap didukung oleh 32 sekolah induk penyelenggara dan 100 sekolah mitra yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia serta satu Satuan Pendidikan Indonesia di Luar Negeri (SILN).
“Jadi sekolah hadir bukan hanya sebagai tempat, namun sebagai ekosistem pembelajaran yang mampu bergerak mendekati kebutuhan para murid,” kata Sekjen Kemendikdasmen Suharti.
Baca juga: Pimpinan MPR: Perluasan pendidikan jarak jauh perlu keseriusan daerah
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.