Rakernas APEKSI 2026 memberikan pesan bahwa kolaborasi merupakan modal utama menghadapi tantangan tersebut. Tidak ada satu kota pun yang memiliki seluruh jawaban. Sebaliknya, setiap kota memiliki pengalaman yang dapat menjadi solusi bagi kota lain.
Surabaya (ANTARA) - Tidak ada kota yang benar-benar berdiri sendiri. Jalan di satu daerah dapat memperlancar distribusi pangan ke daerah lain, sementara inovasi digital dari sebuah kota bisa menginspirasi pelayanan publik di puluhan kota lainnya.
Bahkan, keberhasilan mengelola sampah, meningkatkan pendapatan asli daerah, atau mengurangi kemiskinan di satu wilayah sering kali menjadi rujukan bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Di tengah tekanan fiskal, perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan tuntutan pelayanan publik yang meningkat, pemerintah kota harus bergerak lebih lincah. Kota kini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan pusat aktivitas ekonomi, sosial, pendidikan, dan inovasi.
Karena itu, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Medan, Sumatera Utara pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026 memiliki makna yang melampaui agenda tahunan organisasi. Forum tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang pemerintah kota dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Rakernas tidak diposisikan sebagai ruang menyampaikan daftar persoalan kepada pemerintah pusat, melainkan sebagai arena berbagi solusi, memperkuat kolaborasi, sekaligus menyusun rekomendasi kebijakan berbasis pengalaman nyata di lapangan.
Perubahan paradigma ini patut diapresiasi. Selama bertahun-tahun, hubungan pusat dan daerah kerap dipersepsikan sebagai hubungan yang bersifat satu arah. Daerah menjadi pelaksana kebijakan, sedangkan pusat menjadi perumus utama.
Kini, melalui APEKSI, pemerintah kota mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih setara. Daerah membawa data, pengalaman, inovasi, sekaligus usulan penyempurnaan kebijakan.
Baca juga: APEKSI rumuskan 10 rekomendasi penguatan pemerintah kota
Berbagi kekuatan
Salah satu kekuatan terbesar pemerintah kota sesungguhnya bukan terletak pada besarnya anggaran, melainkan pada kemampuan berinovasi.
Berbagai kota telah menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya tidak selalu menjadi penghalang lahirnya terobosan. Digitalisasi parkir di Surabaya berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah.
Kota Malang mengembangkan sistem perpajakan elektronik yang mempermudah wajib pajak sekaligus memperkuat penerimaan daerah. Medan menghadirkan inovasi digital untuk optimalisasi pajak, sementara kota-kota lain memiliki berbagai aplikasi pelayanan publik yang terbukti efektif.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.