Ramallah (ANTARA) - Seorang pejabat Palestina menuduh Israel memajukan rencana untuk mengambil alih lebih dari 3.750 situs arkeologi di Tepi Barat, dan menggambarkannya sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk memperketat kendali Israel atas lokasi warisan budaya dan mendukung perluasan permukiman.
Saleh Tawafsha, Wakil Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, mengatakan kepada radio resmi Voice of Palestine, Minggu, bahwa organisasi-organisasi permukiman Israel, dengan dukungan pemerintah, berupaya mengalihkan pengelolaan situs-situs tersebut kepada para pemukim, yang telah memperluas kehadiran mereka dengan mendirikan pos-pos baru di dekat beberapa lokasi tersebut.
Sebagian besar situs yang menjadi sasaran berada di Area C Tepi Barat, yang berada di bawah kendali keamanan dan administrasi penuh Israel berdasarkan Perjanjian Oslo, tambah Tawafsha.
Dia menyebut langkah-langkah itu sengaja dilakukan untuk "menghapus identitas sejarah dan budaya Palestina serta mengubah karakter historis situs-situs arkeologi dan keagamaan."
Tawafsha mengungkapkan situs-situs arkeologi tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Palestina, seraya menambahkan bahwa kementeriannya sedang mendokumentasikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran Israel terhadap warisan Palestina dan mengirimkan laporan kepada badan-badan PBB yang relevan.
Belum ada komentar langsung dari pihak berwenang Israel terkait tudingan tersebut.
Menurut Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, Tepi Barat memiliki sekitar 7.000 situs arkeologi, dengan sekitar 60 persen di antaranya terletak di Area C.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.