...Program MMD ini ditargetkan mampu melahirkan lebih dari 100 produk teknologi tepat guna (TTG) yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa

Malang (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) mengerahkan sedikitnya seribu mahasiswa lebih untuk membangun 76 desa yang tersebar di delapan kabupaten di Jawa Timur (Jatim).

Ribuan mahasiswa yang diterjunkan ke puluhan desa di delapan kabupaten di Jatim, yakni Kabupaten Malang, Blitar, Kediri, Lamongan, Trenggalek, Ngawi, Bojonegoro, dan Banyuwangi itu dikemas dalam Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026, dengan konsep living laboratory yang berkelanjutan.

"Konsep living laboratory ini menjadi fokus utama MMD, karena memungkinkan desa berkembang melalui pendampingan yang berkesinambungan dan program pengabdian mahasiswa tidak berhenti setelah mereka selesai bertugas dan berdampak nyata bagi masyarakat," kata Rektor UB, Prof Widodo di sela pelepasan mahasiswa peserta MMD 2026 di halaman rektorat kampus setempat, Senin.

Prof Widodo mengatakan MMD merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun dengan tujuan membentuk living laboratory di masyarakat, sehingga program-program pengabdian dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat, baik literasi, lingkungan maupun perekonomiannya.

Dalam pelaksanaan MMD yang berlangsung selama satu bulan (6 Juli-6 Agustus 2026) itu, mahasiswa tidak hanya membawa bantuan berupa teknologi tepat guna, bibit tanaman produktif, dan berbagai sarana pendukung lainnya. Namun, juga memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui transfer ilmu pengetahuan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Baca juga: Mahasiswa UB luncurkan sistem deteksi dini kanker payudara lewat BUDDY

"Yang paling penting bukan sekadar alat atau barang yang diberikan, tetapi bagaimana masyarakat memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan potensi desanya secara mandiri," ujarnya.

Rektor mengemukakan untuk mempermudah proses adaptasi dan pemberdayaan, UB mengupayakan penempatan mahasiswa sesuai daerah asal kabupaten mereka. Meski tidak seluruhnya dapat ditempatkan di desa asal, karena mereka lebih memahami karakteristik sosial dan potensi wilayah yang didampingi.

Ia mengatakan selama empat tahun terakhir keberlanjutan MMD UB menjadi spesifik, sehingga UB mempertahankan desa-desa dampingan yang sama agar perkembangan masyarakat dapat dipantau secara berkesinambungan.

Karena lokasinya tetap, lanjutnya, program ini benar-benar berkelanjutan. Dampaknya sudah bisa dirasakan masyarakat tempat MMD, termasuk tumbuhnya UMKM dan penerapan teknologi tepat guna.

Pada kesempatan pelepasan MMD 2026 tersebut, Rektor berpesan agar mahasiswa peserta MMD sebagai representasi Universitas Brawijaya. Oleh karena itu, ia meminta nama baik dan nama besar Universitas Brawijaya tetap dijaga di desa masing-masing mahasiswa ditempatkan.

Baca juga: Tim riset UB ingatkan pemerintah tingkatkan mitigasi mikroplastik

Sementara itu, Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB, Prof Luchman Hakim mengatakan MMD UB 2026 diperkuat dengan kolaborasi multipihak, antara lain alumni UB, UB Forest, Perpusnas, Kementerian PPN/Bappenas, Pertamina Patra Niaga. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam bantuan 400 bibit dari UB Forest, 530 eksemplar buku, 1000 bibit tanaman, 2.000 bibit ikan, dan 76 teknologi tepat guna.

Khusus dengan Perpusnas dilaksanakan di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Blitar Lamongan, dan Kediri dengan fokus kegiatan literasi bersama Kementerian PPN/Bappenas.

Selain literasi, MMD 2026 juga difokuskan dalam penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan UMKM serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

"Program MMD ini ditargetkan mampu melahirkan lebih dari 100 produk teknologi tepat guna (TTG) yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga menghasilkan 38 artikel ilmiah, baik nasional maupun internasional, serta lebih dari 500 publikasi di media massa," ujar Prof Luchman.

Baca juga: Mahasiswa RI teliti orangutan dalam program internasional di Taiwan

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.