Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan pemerintah membuka akses bagi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk menyelidiki insiden yang menimbulkan korban sipil di Intan Jaya, Papua Tengah.
Hal tersebut sebagai bagian dari upaya memastikan proses penegakan hukum berjalan objektif.
Yusril dalam konferensi pers bersama Komnas HAM di Jakarta, Senin mengatakan pemerintah akan menyelidiki terhadap jatuhnya korban sipil, termasuk seorang ibu hamil dan bayinya yang meninggal akibat konflik bersenjata di Papua.
"Pemerintah tentu akan mengambil langkah hukum yang pasti untuk melakukan penyelidikan dan penyelidikan secara masif ini terutama terkait jatuhnya korban sipil termasuk ibu-ibu hamil yang meninggal akibat konflik kontak senjata di Papua," katanya.
Menurut dia, selain penyelidikan internal yang dilakukan pemerintah dan TNI, Komnas HAM juga dipersilakan menyelidiki secara independen untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah.
"Di samping melakukan penyelidikan dan penyidikan internal pemerintah, TNI khususnya, maka pemerintah juga memberikan kesempatan dan mempersilakan kepada Komnas HAM juga untuk melakukan suatu penyelidikan atas kasus ini dan kita dengar nanti apa rekomendasi yang disampaikan oleh Komnas HAM kepada pemerintah," ujar dia.
Yusril mengatakan pemerintah tidak menutup mata terhadap adanya korban sipil dalam konflik bersenjata di Papua dan tetap berupaya meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Ia menekankan investigasi harus dilakukan secara adil dan berimbang mengingat konflik melibatkan kelompok bersenjata dan aparat keamanan sehingga penyebab jatuhnya korban harus dibuktikan melalui proses penegakan hukum.
"Adanya satu investigasi yang adil dan berimbang akan mengungkapkan kasus ini dan tentu harus dilakukan langkah-langkah penegakan hukum," ucap Yusril.
Sebelumnya, Komnas HAM menghimpun informasi awal terkait kontak senjata antara aparat keamanan dari Koops TNI Habema dan kelompok bersenjata TPNPB-OPM yang terjadi di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7) malam.
Dalam peristiwa tersebut, seorang perempuan bernama Melkiana Duwitau yang tengah mengandung tujuh hingga delapan bulan meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya setelah terkena peluru saat berada di dalam rumahnya.
Komnas HAM menyebut insiden itu terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang meluas di Tanah Papua dalam beberapa hari terakhir. Rangkaian peristiwa tersebut juga mengakibatkan seorang pendeta, seorang anggota kelompok bersenjata, seorang prajurit TNI, dan seorang pilot pesawat perintis berkewarganegaraan asing meninggal dunia. TNI menyatakan peluru yang mengenai Melkiana berasal dari kelompok bersenjata.
Selain itu, Komnas HAM memperoleh informasi mengenai pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) di Bandara Perintis Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada hari yang sama. Peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh kelompok TPNPB-OPM Kodap Yahukimo yang dipimpin Elkius Kobak.
Dalam kejadian itu, pilot pesawat berkewarganegaraan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, tewas ditembak, sedangkan tujuh penumpang yang merupakan Orang Asli Papua dilaporkan selamat.
Berdasarkan catatan Komnas HAM, penyerangan terhadap pesawat komersial juga terjadi di Bandara Koroway Batu, Yahukimo, pada 11 Februari 2026 yang mengakibatkan dua pilot tewas ditembak. Lembaga tersebut menduga kedua serangan terhadap pesawat di Yahukimo dilakukan oleh kelompok yang sama.
Baca juga: Komnas HAM dorong investigasi kasus ibu hamil tewas tertembak di Papua
Baca juga: Wamendagri minta Pemkab Intan Jaya serius tangani penemuan jenazah
Baca juga: Koops TNI Habema ajak kelompok bersenjata tempuh jalan damai di Papua
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.