Jalur Gaza (ANTARA) - Hamas pada Minggu (5/7) telah membantah tuduhan Israel yang menyebut mereka telah membangun kembali kemampuan militernya di Jalur Gaza.
Hamas menyebut Israel menggunakan klaim tersebut sebagai dalih untuk membenarkan kelanjutan agresi militernya dan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan Juru Bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan bahwa Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya di Gaza tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata.
Dia juga menyerukan kepada para mediator dan negara-negara penjamin untuk memastikan Israel mematuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian tersebut.
Pernyataan Qassem disampaikan setelah stasiun penyiaran milik Israel, Kan TV News, melaporkan para pejabat militer Israel menilai Hamas sedang mempersiapkan kemungkinan babak baru pertempuran dengan merekrut pejuang baru, membangun kembali infrastruktur bawah tanah, termasuk terowongan dan fasilitas militer, serta memproduksi ratusan alat peledak dan roket setiap bulan.
Laporan Kan TV News itu menambahkan bahwa beberapa pejabat militer Israel menganjurkan dimulainya kembali operasi di Gaza, memandang upaya pembangunan kembali Hamas sebagai tantangan keamanan yang semakin meningkat.
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Tahap pertamanya mencakup pertukaran tahanan dan narapidana antara kedua pihak, masuknya bantuan kemanusiaan ke daerah kantong itu, dan penarikan pasukan Israel dari beberapa wilayah di Gaza.
Amerika Serikat pada pertengahan Januari mengumumkan dimulainya tahap kedua, yang berfokus pada demiliterisasi Gaza, rekonstruksi, pemerintahan transisional, dan penarikan penuh pasukan Israel.
Pewarta: Xinhua
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.