Jakarta (ANTARA) - Lahirnya ASEAN Chamber of Commerce Hong Kong (ACCHK), pada 30 Juni 2026, menambah satu simpul baru dalam arsitektur ekonomi Asia.

Di atas kertas, lembaga ini tampak seperti kamar dagang biasa. Namun, dalam perspektif geoekonomi, ia adalah bagian dari jaringan yang lebih besar, yakni upaya menyambungkan kawasan ekonomi selatan China dengan ASEAN dalam satu ekosistem yang makin terintegrasi.

Jaringan yang lebih besar itu, salah satunya adalah kawasan yang dikenal sebagai Greater Bay Area (GBA), yakni sebuah proyek integrasi ekonomi yang menghubungkan Hong Kong, Makau, dan sembilan kota besar di Provinsi Guangdong, China, seperti Shenzhen dan Guangzhou.

GBA bukan sekadar kumpulan kota yang berdekatan, melainkan diarahkan menjadi satu mesin ekonomi terpadu. Contohnya, Shenzhen menjadi pusat inovasi dan teknologi, Guangzhou menguat sebagai basis industri dan perdagangan, sementara Hong Kong berfungsi sebagai gerbang keuangan global yang menghubungkan arus modal internasional.

Dengan konfigurasi seperti itu, GBA diarahkan pula untuk membuka jalur ke luar. Karenanya, ASEAN masuk sebagai ruang ekspansi alami. Dan ACCHK hadir sebagai salah satu instrumen yang menghubungkan dinamika produksi di selatan China dengan kebutuhan pasar, investasi, dan rantai pasok di Asia Tenggara.

Simpul penting

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu penghubung utama dalam arus investasi, produksi, dan distribusi yang mengalir dari GBA melalui Hong Kong.

Indonesia, karena itu, tidak bisa hanya merespons secara pasif. Arus investasi dari GBA melalui Hong Kong bisa menjadi peluang, tetapi juga bisa memperkuat ketergantungan jika tidak diarahkan dengan strategi industri yang jelas.

Hilirisasi yang selama ini menjadi jargon utama Indonesia adalah langkah awal yang penting. Namun, dalam perspektif geoekonomi, hilirisasi tidak cukup jika tak diikuti dengan integrasi ke rantai nilai regional yang lebih luas.

Di sinilah keberadaan ACCHK menjadi sangat relevan. Ia membuka akses yang lebih sistematis ke jaringan bisnis Hong Kong dan GBA. Meskipun demikian, akses tidak otomatis menjadi keuntungan. Ia harus dikonversi melalui kebijakan industri yang konsisten.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.