Depok (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) memberikan kontribusi strategis dalam mengawal penguatan sektor ekonomi kreatif dan ketahanan budaya bangsa dengan menawarkan model transformasi strategis untuk PT Produksi Film Negara (PFN).

Gagasan visioner tersebut dipaparkan secara komprehensif oleh Widharma Raya Dipodiputro dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Administrasi dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI).

Widharma di Kampus UI Depok, Senin menjelaskan industri perfilman memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai salah satu pilar ekonomi kreatif, tetapi juga sarana penguatan identitas nasional.

Sebagai BUMN perfilman, PFN memikul amanah besar menjadi instrumen negara dalam mendukung ekosistem film nasional.

Namun, potret kinerja sepanjang periode 2015–2023 menunjukkan bahwa PFN berada dalam kondisi yang kurang sehat.

Riset Widharma diharapkan memulihkan kinerja Badan Usaha Milik Negara tersebut, mampu menjadi motor penggerak utama dalam mendongkrak daya saing industri perfilman nasional di kancah global.

Baca juga: Wajah baru film Indonesia, Ifan Seventeen ajak jadi saksi sejarah

Hal ini ditandai tingginya angka utang, rendahnya tingkat profitabilitas, serta adanya penyimpangan dari bisnis inti akibat pengelolaan aset yang belum optimal.

Kondisi tersebut menempatkan PFN pada tahap infancy (awal pertumbuhan) dalam siklus hidup perusahaan, yang memicu tingginya risiko kegagalan organisasi.

Meski menghadapi tantangan berat, hasil analisis lingkungan internal dan eksternal (IFAS-EFAS) mengindikasikan bahwa PFN masih berada pada kategori grow and build.

Artinya, katanya, peluang pertumbuhan dan pengembangan masih terbuka lebar melalui langkah-langkah intensif, terintegrasi, selektif, dan kolaboratif.

Untuk merealisasikan potensi tersebut, riset doktor UI ini menawarkan pemecahan masalah
melalui integrasi dua pendekatan teoretis utama, yaitu Public Value Management (PVM) dan
Dynamic Capabilities (DC).

Dalam perspektif Public Value Management, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi PFN tidak hanya bergantung pada kemampuan internal perusahaan, melainkan juga pada peran aktif pemerintah dalam menciptakan lingkungan otorisasi yang kondusif melalui regulasi dan kebijakan nilai publik.

Oleh karena itu, capaian PFN ke depan perlu diukur secara lebih komprehensif, tidak semata-mata berdasarkan keuntungan finansial, tetapi juga kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, hingga penguatan ketahanan budaya nasional.

Dalam kerangka Dynamic Capabilities, riset ini menekankan pentingnya penguatan kemampuan sensing (mendeteksi peluang), seizing (menangkap peluang), dan reconfiguring (menata ulang aset) perusahaan. Langkah ini diwujudkan melalui optimalisasi intellectual capital serta perluasan jejaring kolaborasi berbasis hexahelix.

Pendekatan tersebut dinilai mampu mendorong PFN bertransformasi menjadi lembaga
pembiayaan film nasional yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan dalam menghadapi
dinamika industri kreatif.

Berdasarkan temuan tersebut, ia merancang model redesain strategi bersaing terpadu sebagai cetak biru transformasi PFN guna membangun ekosistem perfilman nasional yang kuat.

Baca juga: PFN bidik pengembangan bisnis layanan lewat kerja sama dengan ASQI

Baca juga: PFN-ASQI kolaborasi perkuat pelatihan CX BUMN

Pewarta: Feru Lantara
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.