Artinya, ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan upah murah, tetapi mulai masuk kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas SDM
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memandang, peta ekonomi ASEAN kini semakin kompetitif seiring dengan naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Bank Dunia menetapkan rentang pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar 4.636-14.375 dolar AS sebagai ambang negara berpendapatan menengah atas untuk tahun fiskal 2027. Di ASEAN, Vietnam dan Filipina kini masuk kelompok tersebut bersama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
“Artinya, ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan upah murah, tetapi mulai masuk kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas SDM,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Bagi Indonesia, menurut Rizal, hal ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Persaingan menarik investasi asing akan semakin ketat karena investor akan membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang kuat di sektor manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang kuat di jasa dan tenaga kerja terdidik, serta Malaysia dan Thailand yang lebih matang dalam rantai pasok industri.
Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang kolaborasi ASEAN sebagai basis produksi terintegrasi, selama Indonesia mampu masuk lebih dalam ke rantai nilai regional, bukan hanya menjadi pasar besar dan pemasok bahan mentah.
Rizal mencatat bahwa keunggulan Indonesia ada pada skala ekonomi, pasar domestik besar, sumber daya alam strategis, dan potensi hilirisasi.
Namun, Indonesia juga masih memiliki tantangan antara lain terkait dengan produktivitas tenaga kerja belum tinggi, biaya logistik dan energi masih menjadi beban, kepastian regulasi sering berubah, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) dan inovasi belum merata.
“Jadi, dibanding Vietnam dan Filipina, Indonesia unggul dari sisi ukuran pasar dan SDA, tetapi masih harus mengejar agresivitas manufaktur ekspor, efisiensi birokrasi, dan kualitas tenaga kerja,” jelas Rizal.
Ia juga memandang target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi masih realistis dalam jangka panjang, tetapi tidak mudah dicapai dalam waktu dekat.
Ambang negara berpendapatan tinggi menurut Bank Dunia berada pada GNI per kapita di atas 14.375 dolar AS, sedangkan Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Karena itu, menurut Rizal, kuncinya bukan sekadar menjaga pertumbuhan 5 persen, tetapi mendorong pertumbuhan berbasis produktivitas, yakni industrialisasi bernilai tambah, ekspor manufaktur dan jasa modern, pendidikan-vokasi, inovasi, kepastian investasi, dan reformasi birokrasi.
“Tanpa itu, Indonesia berisiko terjebak dalam middle-income trap. Naik kelas secara statistik, tetapi belum kuat menjadi ekonomi maju,” kata Rizal.
Baca juga: Kemen-UMKM: Posisi ekonomi digital RI di ASEAN peluang UMKM naik kelas
Baca juga: Menkomdigi ajak ASEAN buat tata kelola AI cegah kesenjangan digital
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.