Jakarta (ANTARA) - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo mengatakan perdagangan karbon kehutanan dapat mendukung target penurunan emisi nasional.
“Implementasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan pasar karbon Indonesia sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional,” kata Hashim dalam keterangan bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI di Jakarta, Senin.
Hal ini menyusul peluncuran Persetujuan Menteri Kehutanan tentang penerbitan unit karbon melalui skema Non Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (Non SPE-GRK).
“Peluncuran perdagangan karbon kehutanan melalui skema Non Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (Non SPE-GRK) menandai dimulainya perdagangan karbon pada proyek-proyek yang telah memenuhi persyaratan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Hashim turut mengapresiasi kinerja Kemenhut dalam mempercepat implementasi perdagangan karbon.
Menurutnya, program perdagangan karbon menjadi salah satu implementasi kebijakan pemerintah yang paling cepat direalisasikan.
“Saya bisa katakan program itu sekarang sudah rampung dan sekarang kita implementasi,” kata Hashim.
Ia mengakui bahwa tahap implementasi tentu memiliki tantangan dalam proses di lapangan. Namun, Hashim menilai program perdagangan karbon kehutanan berpotensi untuk menjadi salah satu program yang paling cepat dan sempurna.
Ia menjelaskan keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan yang bekerja dalam satu ekosistem.
“Program ini lintas departemen, lintas kementerian, lintas lembaga, lintas sektoral, dan ini yang paling berhasil. Luar biasa ini, kita berbangga,” sambung Hashim.
Hashim secara khusus memberikan apresiasi kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang dinilai mampu mengakselerasi implementasi perdagangan karbon hingga menghasilkan proyek yang siap diperdagangkan.
Sehingga, menurutnya, pada tanggal 9 Juli mendatang, peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) perdagangan karbon di sektor kehutanan dapat langsung berjalan.
“Kamis depan ini (diluncurkan), luar biasa. Ini kita berbangga,” ujar dia.
Baca juga: Menhut: Sinergi antarpihak wujudkan perdagangan karbon berintegritas
Baca juga: Nilai ekonomi karbon dorong investasi hijau hingga 5,8 miliar dolar AS
Baca juga: Pemerintah siapkan 1,4 juta hektare lahan karbon untuk masyarakat adat
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.