Bagi Indonesia, ini juga peluang yang menegaskan posisi sebagai penjaga jalur pelayaran dunia yang kredibel dan konsisten pada hukum laut internasional

Jakarta (ANTARA) - Ada angka yang layak dicermati dari pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7); ada 26 kesepakatan.

Setahun lalu, ketika Leaders Retreat pertama digelar di Singapura, jumlah kesepakatannya 19. Angka itu naik tujuh hal.

Dalam diplomasi bilateral, jumlah kesepakatan yang bertambah dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya biasanya memberi tanda dari kedua pihak bahwa mereka semakin nyaman menaruh kepentingan konkret di meja.

Prabowo menggunakan kata itu. Presiden menyebut Leaders Retreat menunjukkan kematangan kepercayaan dan nilai strategis hubungan Indonesia dan Singapura.

Dari pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, kepercayaan kedua negara kian menebal.

Dari 26 kesepakatan yang diumumkan, 18 merupakan kerja sama antarpemerintah dan delapan sisanya business-to-business.

Cakupannya lebih lebar dari perdagangan, investasi, energi, lingkungan hidup, transformasi digital, hingga pengembangan sumber daya manusia. Prabowo dalam pernyataannya menegaskan, bahwa kerja sama ekonomi tetap menjadi jangkar yang menaut erat hubungan kedua negara, dengan peningkatan kolaborasi tercatat di hampir semua sektor.

Peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kian diperlihatkan dengan ditunjuknya bada itu untuk mengimplementasikan kerja sama perdagangan listrik lintas batas. Danantara, posisinya kini mulai berfungsi sebagai instrumen diplomasi ekonomi.

Peta jalan perdagangan listrik lintas batas ini ditandatangani Rosan Roeslani sebagai CEO Danantara dengan mitra Singapura, disusul sederet MoU business-to-business antara Danantara dan tiga entitas Singapura: Keppel, Singapore Energy Interconnections, dan Sembcorp.

Di luar energi, kedua negara juga menyepakati kerja sama ketahanan rantai pasok pangan serta kolaborasi kredit karbon di bawah Pasal 6 Paris Agreement. Agenda perubahan iklim yang dampaknya benar-benar muncul belakangan ini mulai masuk secara formal ke arsitektur kerja sama bilateral, tak lagi sekadar wacana pinggiran.

Selat Malaka dan bayang-bayang Timur Tengah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.