Purwokerto (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto Christoveny mengatakan penurunan harga telur ayam ras dipicu meningkatnya pasokan yang tidak diimbangi permintaan sehingga diperlukan diversifikasi pasar untuk menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan peternak.
"Dalam kondisi pasokan melimpah, yang perlu dilakukan adalah membuka pasar baru agar kelebihan produksi dapat terserap dan harga tidak terus tertekan," katanya dalam kegiatan Bincang BI Bersama Media di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.
Menurut dia, peningkatan produksi di sejumlah daerah menyebabkan kelebihan pasokan sehingga harga telur turun hingga di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) untuk tingkat konsumen yang sebesar Rp26.500 per kilogram karena harga di pasaran berkisar Rp23.000-Rp25.000 per kilogram.
Oleh karena itu, kata dia, diperlukan solusi untuk memperkuat distribusi dan memperluas akses pasar.
Dia mencontohkan produksi telur ayam ras dari Pondok Pesantren Modern ZIIS (Zamzam Integrated Islamic School) yang melimpah diserap badan usaha milik petani (BUMP) PT Wijaya Kusuma Pangan Mandiri melalui mekanisme Kerja Sama Antar-Daerah (KAD) dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang difasilitasi KPwBI Purwokerto.
“Kerja sama antardaerah menjadi salah satu solusi mengatasi kelebihan pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan daerah lain. BI juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta program kreatif untuk memperkuat distribusi dan pemasaran produk pertanian maupun peternakan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Christoveny juga memaparkan perekonomian Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara tetap menunjukkan kinerja kuat pada triwulan I 2026 di tengah inflasi yang masih terkendali.
"Pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya pada triwulan I 2026 ditopang meningkatnya konsumsi rumah tangga, pembangunan infrastruktur, investasi swasta, serta sektor pertanian yang memasuki masa panen raya," katanya.
Dia mengatakan ekonomi Banyumas Raya tumbuh 5,53 persen pada triwulan I 2026. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Banjarnegara sebesar 6,57 persen, disusul Cilacap 6,35 persen, Purbalingga 5,35 persen, dan Banyumas 5,32 persen.
Menurut dia, penguatan ekonomi didukung meningkatnya konsumsi saat Ramadhan dan Idul Fitri, kenaikan upah minimum, pencairan tunjangan hari raya, stimulus pemerintah, serta berlanjutnya proyek strategis.
Baca juga: Wamentan Sudaryono tegaskan pemerintah jaga harga ayam dan telur
Baca juga: Pemprov Jatim siapkan solusi atasi anjloknya harga telur ayam peternak
Baca juga: Pengamat: Penguatan serapan dan rantai pasok jaga harga ayam dan telur
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.