Jenewa (ANTARA) - Wabah Ebola, yang disebabkan oleh galur (strain) Bundibugyo yang mematikan, di RD Kongo timur terus meluas, dengan 506 kematian dilaporkan hingga saat ini, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (7/7).

"Skala sebenarnya dari wabah ini belum sepenuhnya diketahui", dan masih terlalu dini untuk mengatakan wabah itu mulai stabil, kata Anne Ancia, perwakilan WHO untuk Republik Demokratik (RD) Kongo, kepada wartawan di Jenewa melalui tautan video, sebagaimana warta Xinhua.

Berbicara dari Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah, Ancia mengatakan hingga 4 Juli, RD Kongo melaporkan 1.561 kasus terkonfirmasi, termasuk 506 kematian, dan 254 pasien yang telah pulih.

Sementara itu, lebih dari 10.000 kontak saat ini sedang dipantau.

Ancia mengatakan pemerintah daerah, dengan dukungan WHO, sedang menelusuri riwayat setiap kasus untuk menetapkan rantai penularan dan mengisolasi kontak.

Dia menambahkan pusat-pusat perawatan beroperasi "pada kapasitas penuh" dan para tenaga kesehatan terus melayani masyarakat yang terdampak meskipun menghadapi tantangan berat.

ANTARA/Xinhua

Meskipun kapasitas pengujian harian meningkat dan laboratorium terdesentralisasi didirikan di provinsi-provinsi yang terdampak, Ancia memperingatkan akan adanya kekurangan pasokan penting.

"Saat ini, kami tidak memiliki cukup ambulans," katanya, seraya memperingatkan semua kebutuhan di Provinsi Ituri belum dapat sepenuhnya terpenuhi.

Sementara itu, dia mengumumkan uji klinis dimulai pada 2 Juli untuk mengevaluasi dua terapi yang menjanjikan untuk strain Bundibugyo.

Meskipun belum ada obat yang terbukti efektif dan disetujui untuk penyakit ini, lebih dari 1.200 dosis pengobatan akan diberikan secara tunggal atau kombinasi untuk menilai apakah obat tersebut dapat meningkatkan peluang bertahan hidup pasien, tambahnya.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.