Hubungan antarnegara pada dasarnya tidak hanya dibentuk oleh interaksi formal di meja perundingan, tetapi juga oleh konstruksi pemahaman di tingkat masyarakat.
Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar (Kedubes) Kuwait di Jakarta menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kerja sama pertukaran berita antara Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dan Kantor Berita Kuwait (Kuwait News Agency/KUNA), sebagai upaya memperkuat arus informasi dan pemahaman masyarakat di kedua negara.
Demikian dikatakan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Khalid Jassim Al-Yassin, di sela-sela kunjungannya ke ANTARA Heritage Center di Pasar Baru, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Tentu saja, jika pertukaran berita antara ANTARA dan KUNA ini berhasil diwujudkan, maka ini akan membuka ruang baru dalam praktik diplomasi nontradisional.
Dalam dunia yang semakin padat informasi, siapa yang menceritakan sebuah peristiwa sering kali sama pentingnya dengan peristiwa itu sendiri.
Dalam kaitan inilah lembaga kantor berita mengambil peran yang lebih strategis. Pilihan berita, sudut pandang, dan bahasa yang digunakan membentuk persepsi publik lintas negara.
Ketika ANTARA menulis tentang Kuwait, atau KUNA menurunkan laporan tentang Indonesia, yang dipertukarkan bukan hanya informasi, tetapi juga cara melihat dunia. Dalam perspektif hubungan internasional, hal ini dapat dibaca sebagai bagian dari diplomasi publik.
Dalam hal ini, negara tidak lagi hanya berkomunikasi dengan negara lain melalui jalur resmi, tetapi juga langsung kepada masyarakatnya.
Media menjadi medium yang memperhalus pesan, membuatnya lebih mudah diterima, dan sering kali lebih dipercaya dibandingkan pernyataan diplomatik formal.
Hubungan semacam itu bekerja dalam dua arah. Indonesia, misalnya, tidak hanya menjadi objek pemberitaan di Kuwait, tetapi juga subjek yang aktif membentuk narasi tentang dirinya sendiri.
Dengan begitu, terbentuk ruang percakapan yang lebih adil. Kedua negara dapat memahami satu sama lain secara langsung, tanpa dibayangi dominasi narasi global.
Kepentingan geopolitik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.