Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memprioritaskan pengembangan ekspor produk bernilai tambah tinggi sebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan pengembangan ekspor ke depan tidak hanya mengandalkan komoditas primer, melainkan diarahkan pada berbagai sektor unggulan yang memiliki potensi besar di pasar internasional.
"Prioritas pemerintah dalam beberapa tahun ke depan adalah mendorong ekspor produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi agar mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Puntodewi kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan fokus pengembangan ekspor mencakup berbagai sektor, mulai dari produk pertanian, perkebunan, perikanan, makanan olahan, elektronik, otomotif, alas kaki, tekstil, besi dan baja, hingga furnitur.
Baca juga: Kemendag andalkan tiga strategi dongkrak ekspor nasional
Selain produk manufaktur, pemerintah juga terus mendorong ekspor sektor jasa, antara lain gim, animasi, perdagangan elektronik (e-commerce), MICE, serta hotel, restoran, dan katering (horeka) yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan seiring berkembangnya ekonomi digital.
Dari sisi pasar, Kemendag memfokuskan promosi dan penetrasi ekspor ke negara-negara mitra utama seperti China, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan.
Di samping itu, pemerintah juga menggarap pasar potensial lainnya antara lain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Belanda, Rusia, Kanada, Kazakhstan, Peru, Pakistan, dan Kenya, dengan memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional yang telah dimiliki Indonesia.
Untuk memperkuat promosi ekspor, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional akan menyelenggarakan 178 kegiatan promosi dagang internasional sepanjang 2026.
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.