perkembangan yang paling melegakan pasar adalah meningkatnya harapan normalisasi kondisi geopolitik menyusul dimulainya perundingan damai antara AS dan Iran pada Juni

Jakarta (ANTARA) - Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menilai konsumsi domestik Indonesia mulai menghadapi tekanan yang lebih besar pada kuartal II 2026 seiring kenaikan suku bunga, inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah dan likuiditas yang semakin ketat.

Pada kuartal I 2026 aktivitas ekonomi domestik masih relatif tangguh karena ditopang faktor musiman Hari Raya, belanja pemerintah yang besar, investasi, serta peningkatan skala berbagai program sosial.

"Namun untuk kuartal II dan secara keseluruhan tahun 2026 ini tantangan dan keterbatasan semakin meningkat seiring kenaikan BI Rate, kenaikan inflasi, pelemahan rupiah dan likuiditas yang lebih ketat," ujar Freddy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, tekanan terhadap konsumsi tercermin dari sejumlah indikator ekonomi terkini.

Inflasi secara tahun berjalan hingga akhir Juni 2026 mencapai 1,79 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,38 persen.

Kenaikan harga tersebut dinilai berdampak pada penjualan ritel yang terkontraksi selama dua bulan berturut-turut, yakni minus 3,7 persen pada April dan minus 3,2 persen pada Mei.

Penurunan penjualan ritel itu kemudian ikut menekan aktivitas sektor manufaktur.

Hal tersebut terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun menjadi 46,9 pada Juni 2026, level terendah sejak Juni 2025.

Baca juga: Ekonom lihat potensi penguatan pasar obligasi seiring moneter longgar

Baca juga: MAMI meraih penghargaan di The Asset Benchmark Research Awards 2025

Selain itu, Freddy menuturkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menunjukkan tren penurunan secara bertahap di berbagai komponen, mulai dari ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, hingga prospek iklim usaha.

Di sisi lain, pemerintah telah merespons perlambatan daya beli dengan menggelontorkan stimulus ekonomi semester II 2026 senilai Rp26,34 triliun yang mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi.

"Stimulus ini dapat membantu menjaga daya beli, tetapi kita harus menunggu efektivitasnya, di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas yang membatasi ruang pemberian stimulus lanjutan yang lebih besar," kata Freddy.

Dari sisi global, Freddy memandang perkembangan yang paling melegakan pasar adalah meningkatnya harapan normalisasi kondisi geopolitik menyusul dimulainya proses perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Juni lalu.

Dalam nota kesepahaman (MoU) kedua negara, normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu prioritas utama.

Langkah tersebut dinilai penting karena sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia setiap hari melewati jalur tersebut.

Menurut Freddy, apabila pasokan energi kembali normal, tekanan inflasi global berpotensi mereda sehingga membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk AS.

"Namun sekali lagi, pasar tetap harus menunggu finalisasi kesepakatan yang ditargetkan selesai dalam 60 hari sejak nota kesepahaman ditandatangani, dan masih bisa diperpanjang. Tentu yang kita harapkan adalah outcome yang baik dan sustainable," ujarnya.

Baca juga: Ekonom sebut belanja pemerintah pengaruhi langsung permintaan domestik

Baca juga: PIER nilai konsumsi domestik tetap jadi penopang utama ekonomi RI

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.