Jakarta (ANTARA) - Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Inspektur Jenderal Polisi Wibowo mengatakan bahwa mewujudkan keselamatan lalu lintas tidak dapat dilakukan oleh satu institusi semata, melainkan lewat kolaborasi semua pihak.

Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat.

"Tidak ada keberhasilan lalu lintas itu karena satu orang, satu kementerian, atau satu instansi. Keberhasilan itu karena semua kementerian, semua stakeholder terkait, pemerintah daerah, termasuk masyarakat itu sendiri. Semua karena kita," ucapnya dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.

Wibowo mengatakan bahwa tantangan lalu lintas ke depan akan semakin kompleks. Indonesia diproyeksikan memasuki bonus demografi hingga 2045 dengan jumlah penduduk usia produktif yang terus meningkat.

Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai rata-rata 5-6 persen setiap tahun, sementara penambahan infrastruktur jalan belum mampu mengimbanginya.

Apalagi, menurut Wibowo, kondisi tersebut masih diperberat dengan rendahnya budaya tertib berlalu lintas di tengah masyarakat.

"Budaya tertib lalu lintas masyarakat kita juga masih sangat kurang. Yang paling terlihat dan menjadi keluh kesah masyarakat adalah lawan arus," ucapnya.

Selain itu, perkembangan teknologi dan tingginya mobilitas masyarakat juga menuntut pelayanan lalu lintas yang semakin efektif, efisien, mudah diakses, dan tetap menjamin keamanan bagi pengguna jalan.

Maka dari itu, dibutuhkan kolaborasi semua pihak agar keselamatan lalu lintas dapat diwujudkan dengan optimal.

"Keberhasilan yang akan tercapai adalah keberhasilan kita semuanya," ucapnya.

Sebagai langkah awal dirinya mengemban jabatan baru sebagai Kepala Korlantas, Wibowo akan segera melakukan pemetaan dan survei sejumlah jalur, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur, sebagai persiapan menghadapi Operasi Natal dan Tahun Baru serta Operasi Ketupat.

Pewarta: Nadia Putri Rahmani
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.