Secara rata-rata di wilayah Jawa Timur terdapat peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite sekitar 7–10 persen

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Pertamina Patra Niaga mencatat terdapat peralihan konsumsi masyarakat dari Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax ke Pertalite sekitar 7 sampai 10 persen di Jawa Timur.

"Secara rata-rata di wilayah Jawa Timur terdapat peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite sekitar 7–10 persen," kata Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi dalam temu media di Surabaya, Rabu.

Ahad menuturkan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite mulai terjadi pascakenaikan harga Pertamax dan Pertamina Dex beberapa waktu lalu.

Peralihan konsumsi ini, lanjut Ahad, mayoritas terjadi di wilayah perkotaan di Jawa Timur dengan karakteristik padat kendaraan.

Meski demikian, ia memastikan Pertamina telah mengantisipasi melalui berbagai proyeksi perubahan pola konsumsi masyarakat.

Ia menjelaskan Pertamina telah membuat proyeksi dan langkah antisipasi untuk disampaikan ke masing-masing wilayah dan pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam perhitungan kebutuhan kuota hingga akhir 2026.

Untuk upaya penambahan kuota BBM subsidi, Ahad menegaskan langkah itu bukan kewenangan Pertamina melainkan pemerintah pusat.

Ia menekankan Pertamina hanya menjalankan penugasan dari pemerintah mengenai alokasi kuota BBM subsidi.

Sejauh ini, kuota yang ditetapkan pemerintah untuk BBM Biosolar sebanyak 2,47 juta kilo liter (KL) sedangkan Pertalite sebanyak 3,96 juta KL hingga akhir tahun untuk Jawa Timur.

"Kami sudah mengantisipasinya. Namun kuota merupakan bagian dari penugasan pemerintah sehingga keputusan mengenai jumlah kuota yang dapat disalurkan di masing-masing wilayah tetap berada di tangan pemerintah pusat," kata Ahad.

Baca juga: BPH Migas pastikan distribusi BBM di Jawa Timur kembali normal

Baca juga: Pertamina percepat penyaluran BBM bersubsidi untuk atasi antrean

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.