Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Institut Mpu Kuturan Bali, Prof. Kadek Aria Prima Dewi PF menilai kehadiran fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali merupakan bagian dari sistem penanganan sampah dari hulu ke hilir.

"PSEL adalah ikhtiar baru yang perlu diuji dan diawasi lewat pelaksanaannya, bukan jalan pintas yang membuat kewajiban memilah sampah dari rumah jadi tidak relevan lagi. Justru sebaliknya semakin canggih fasilitas di hilir, semakin penting perilaku memilah di hulu," ujar Kadek Aria sebagaimana keterangan diterima di Jakarta, Rabu.

Danantara Indonesia telah meresmikan PSEL di Desa Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali, pada Rabu ini, yang menandai babak baru penanganan krisis sampah di Bali.

Menurutnya, keberhasilan penanganan sampah di Bali tidak hanya dari kesuksesan PSEL, namun juga terdapat penguatan penanganan sampah di masyarakat dari hulu hingga hilir.

Bali menjadi lokasi perdana pembangunan PSEL oleh Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).

PSEL Bali ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total investasi mencapai Rp3 triliun, dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.500 ton per hari, serta diproyeksikan akan menciptakan lapangan pekerjaan hingga 1.200 orang.

Krisis sampah di Bali telah berkembang menjadi isu yang menyentuh lingkungan, kesehatan, kenyamanan warga, citra pariwisata, hingga keberlanjutan pembangunan daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, diantaranya masyarakat, komunitas lingkungan, desa adat, sekolah, dan pelaku usaha telah menjalankan berbagai inisiatif pengurangan sampah dari sumber, seperti pemilahan rumah tangga, pengolahan organik, hingga bank sampah.

Sepuluh desa di Bali bahkan telah mendapatkan penghargaan atas konsistensi pilah memilah sampah berbasis sumber.

Baca juga: Peneliti: PSEL solusi terintegrasi atasi sampah di Bali jadi energi

Baca juga: Danantara mulai pembangunan PSEL Bali pastikan teknologi teruji

Baca juga: Legislator dukung Danantara bongkar dugaan fraud di PT Pos Indonesia

Namun demikian, Kadek Aria mengatakan skala persoalan menunjukkan inisiatif warga saja tidak cukup menanggung seluruh beban, yang mana dibutuhkan dukungan kebijakan, infrastruktur, pembiayaan berkelanjutan, dan koordinasi lintas pihak yang lebih rapi.

Sehingga, menurutnya, saat ini PSEL diposisikan sebagai instrumen tambahan untuk menangani sampah yang tidak selesai lewat pengurangan, guna ulang, daur ulang, serta pengolahan organik.

"Masyarakat harus memahami PSEL sebagai bagian dari sistem yang tetap membutuhkan peran mereka di hulu, kepercayaan dan partisipasi akan jauh lebih terbuka," ujar Kadek Aria.

Ia menegaskan, keterlibatan Danantara sebagai aktor strategis menuntut transparansi yang sepadan, yang mana masyarakat perlu mendapatkan edukasi dan informasi mengenai standar lingkungan, target pengolahan, dan mekanisme pengawasannya agar publik memiliki ruang mengawal, bukan sekadar menerima proyek yang sudah jadi.

"Yang dibutuhkan Bali adalah harapan yang realistis. PSEL boleh diberi kesempatan sebagai langkah baru, tapi kesempatan itu harus disertai transparansi, pengawasan berkala, dan pelibatan masyarakat secara nyata," kata Kadek Aria.

Ke depan, pihaknya berharap kehadiran PSEL tidak melemahkan agenda yang sudah tumbuh lebih dulu di masyarakat yaitu budaya memilah sampah dari rumah, pengurangan plastik sekali pakai, penguatan bank sampah, serta ekonomi sirkular, namun semestinya melengkapi upaya tersebut.

Baca juga: Danantara gabung empat asset management BUMN ke Mandiri MI

Baca juga: Danantara temui Tony Blair untuk perkuat kolaborasi internasional

Baca juga: DSN MUI dorong pembentukan Danantara Syariah dongkrak ekonomi umat

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.