Melalui agenda ini, kita ingin mengembangkan kapasitas Indonesia untuk mengembangkan teknologi vaksin di dalam negeri. Mempercepat (implementasinya) dalam aplikasi dan praktik, dan membangun ekosistem inovasi nasional yang resilien.

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, pengembangan vaksin merupakan salah satu kunci kedaulatan kesehatan Indonesia, sehingga kerja sama Universitas Indonesia dan Tsinghua University dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA, diharapkan mampu menginspirasi riset dan inovasi vaksin lainnya.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan di Jakarta, Rabu, peluncuran prototype vaksin tersebut lebih dari sekedar perayaan, melainkan bukti nyata kolaborasi internasional, sains yang unggul, dan dedikasi tinggi yang melahirkan solusi nyata guna mengatasi masalah dan mengejar ambisi nasional yakni ketahanan kesehatan.

"Melalui agenda ini, kita ingin mengembangkan kapasitas Indonesia untuk mengembangkan teknologi vaksin di dalam negeri. Mempercepat (implementasinya) dalam aplikasi dan praktik, dan membangun ekosistem inovasi nasional yang resilien," kata Arif.

Sejalan dengan tujuan itu, pihaknya mempercepat pengembangan vaksin-vaksin mutakhir guna mencegah tuberkulosis (TB), dengue, dan influenza melalui kolaborasi antardisiplin guna mendorong penemuan-penemuan dan inovasi bidang kesehatan, ujarnya.

Arif mengatakan melalui skema pendanaan riset yang kompetitif baik untuk riset preklinis maupun klinis, serta akses ke berbagai infrastruktur riset, pihaknya selalu mengajak berbagai pihak, baik universitas, industri kesehatan, maupun mitra internasional untuk berkolaborasi.

Pihaknya juga selalu bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), industri, universitas, dan mitra global untuk memastikan vaksin-vaksin yang dihasilkan aman, efektif, dan bisa diakses publik.

"Tolok ukur kesuksesan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk memajukan prototipe menjanjikan ini melalui studi preklinis, uji klinis, produksi berskala industri yang ketat, dan pada akhirnya memastikan vaksin-vaksin inovatif bisa diakses oleh orang-orang yang paling membutuhkan," kata Arif.

Dia berharap peluncuran itu meningkatkan investasi di bidang riset dan pengembangan serta menumbuhkan semangat kolaborasi yang lebih kuat, agar cita-cita Indonesia sebagai kontributor vaksin global terpercaya bisa tercapai.

"Pengembangan vaksin bukan semata pencapaian satu laboratorium atau institusi. Itu adalah puncak dari ekosistem inovasi terintegrasi, di mana riset dasar, teknologi mutakhir, sains klinis, kapasitas produksi, regulasi yang unggul, pendanaan, dan kolaborasi internasional bersatu untuk menjawab satu tantangan masyarakat yang paling mendesak," kata Arif.

Baca juga: BRIN: Bandar antariksa Biak simbol kemandirian ekosistem antariksa

Baca juga: UI: Pengembangan vaksin dengue mRNA dengan Tsinghua beri efek berganda

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.