Surabaya (ANTARA) - Hujan yang turun beberapa jam seharusnya tidak lagi mampu melumpuhkan sebuah kota besar. Namun, perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi.

Di tengah musim yang semestinya memasuki kemarau, Kota Surabaya, Jawa Timur, justru diguyur hujan berintensitas tinggi selama beberapa hari pada akhir Juni 2026.

Air menggenangi sejumlah ruas jalan, aktivitas warga terganggu, lalu lintas tersendat, dan berbagai pertanyaan kembali muncul. Mengapa genangan masih terjadi di kota yang selama bertahun-tahun dikenal serius membangun sistem pengendalian banjir?

Pertanyaan itu tidak dapat dijawab secara sederhana. Genangan di Surabaya bukan lagi semata persoalan kurangnya saluran drainase, melainkan persoalan tata kelola air perkotaan yang semakin kompleks. Kota berkembang, kawasan terbangun semakin luas, permukaan resapan berkurang, sementara curah hujan menjadi semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya juga menunjukkan bahwa pekerjaan pengendalian genangan terus bergerak. Sejak pemetaan dilakukan pada 2020, sebanyak 1.015 titik genangan berhasil diidentifikasi.

Hingga 2025, sekitar 440 titik telah ditangani, sedangkan sekitar 120 titik lagi menjadi target penyelesaian sepanjang 2026 melalui pembangunan drainase, konektivitas saluran, normalisasi, rumah pompa, hingga pembangunan kolam tampung.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa penanganan genangan bukan pekerjaan yang berhenti dalam satu periode anggaran. Ia merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan perencanaan bertahap, sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi kota.

Hal yang menarik, tantangan terbesar justru berada di luar saluran-saluran kecil di lingkungan permukiman. Masalah utama berada pada hubungan antara saluran tersier, saluran primer, sungai, hingga muara. Selama mata rantai itu belum bekerja sebagai satu sistem, genangan akan tetap muncul, meskipun drainase lingkungan sudah diperbaiki.


Simpul hulu

Selama ini masyarakat sering melihat genangan hanya dari titik tempat air mengumpul. Padahal persoalan sesungguhnya sering berada jauh di hilir.

Sedimentasi yang terjadi di Sungai Surabaya, Kalimas, maupun Kali Jagir mengurangi kapasitas aliran air. Pendangkalan tersebut membuat air lebih lambat mengalir menuju laut.

Kondisi semakin berat ketika pasang laut terjadi bersamaan dengan hujan lebat sehingga muncul fenomena aliran balik atau backwater. Dalam situasi seperti itu, rumah pompa bekerja lebih keras karena air yang sudah dipompa tidak sepenuhnya dapat mengalir ke laut.

Inilah sebabnya pembangunan drainase kota tidak cukup apabila normalisasi sungai tidak berjalan bersamaan. Air selalu mengikuti hukum gravitasi. Jika saluran di hilir tersumbat, maka pembangunan saluran baru di kawasan permukiman hanya memindahkan masalah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.