Sejarah Tagore-Dewantara adalah kebenaran bahwa ikatan India dan Indonesia mendahului eksistensi negara modern itu sendiri.
Jakarta (ANTARA) - Pada Juli 1927, Pemerintah kolonial Hindia Belanda kelimpungan mendengar kabar ada seorang pujangga besar dunia akan berkunjung ke tanah Nusantara.
Dialah Rabindranath Tagore, peraih nobel sastra pertama dari bangsa Asia, yang sudah berlayar dari India menuju Batavia.
Tagore, yang sudah terkenal dengan novel Gora, atau Gitanjali, kumpulan puisi yang dihadiahkan nobel sastra tahun 1913, tentu saja di dalam kepalanya banyak sekali melahirkan buah pikir.
Apalagi, pemerintah kolonial masih gugup dengan pemberontakan PKI yang berusaha menggulingkan Hindia Belanda pada akhir 1926 hingga awal 1927.
Kabar itu sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial hingga menggerakkan Politieke Inlichtingen Dienst (PID), dinas intelejen, untuk bertugas mengawasi penyair filsuf dari India tersebut.
Tagore memang berjanji tidak akan menyentuh perkara politik selama perjalanan yang dia sebut ziarah budaya ke India Raya. Tapi, kelahiran Gora, seorang pemuda dalam novel, adalah penolakan keras terhadap kolonialisme di atas tinta sastra.
Bali
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.