Dengue masih menjadi ancaman kesehatan yang serius, baik di tingkat global maupun nasional. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk melalui pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan peluncuran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berinovasi guna menjawab tantangan penyakit menular, sekaligus memperkuat kemandirian nasional di bidang farmasi dan bioteknologi.
Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut prototipe itu merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, dan PT Etana, dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) , Kementerian Sains dan Teknologi China, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta pendampingan regulatori dari BPOM.
"Dengue masih menjadi ancaman kesehatan yang serius, baik di tingkat global maupun nasional. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk melalui pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA," ujar Taruna Ikrar.
Oleh karena itu, katanya, peluncuran prototipe vaksin ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi kesehatan nasional, sekaligus implementasi kerja sama strategis Indonesia dan China di bidang vaksin, genomik, dan bioteknologi kesehatan.
Baca juga: Menkes: Kerja sama UI-Tsinghua dapat perluas antigen Indonesia jadi 16
Dia menegaskan keberhasilan hilirisasi hasil riset kesehatan tidak hanya bergantung pada kemampuan peneliti dan industri, tetapi juga memerlukan keterlibatan regulator sejak tahap paling awal pengembangan produk.
Menurutnya, paradigma bahwa BPOM hanya berperan pada tahap akhir melalui penerbitan izin edar harus diubah.
"Hilirisasi semua yang berhubungan dengan vaksin dan obat-obatan. Jangan berpikir BPOM hanya sebagai tukang stempel. BPOM harus dilibatkan sejak awal karena kami memahami standar, metode, dan karakteristik produk yang harus dipenuhi," katanya.
Dia menyebutkan banyak produk yang sebelumnya telah diproses tidak dapat dilanjutkan karena BPOM baru dilibatkan pada tahap akhir. Padahal pihaknya memiliki standar yang mengacu pada regulasi global, sehingga dapat membantu mendampingi dan meningkatkan kualitas produk.
Baca juga: Wamendikti: Vaksin dengue mRNA RI-China bukti komitmen majukan riset
Taruna mengapresiasi tim peneliti dan seluruh mitra yang sejak awal melibatkan BPOM dalam proses pengembangan prototipe vaksin dengue berbasis mRNA. Pendekatan tersebut dinilai akan mempercepat proses pengembangan produk tanpa mengurangi aspek keamanan, khasiat, dan mutu.
"Dalam pengembangan vaksin ini, BPOM memiliki tekad untuk mendukung secara maksimal karena kita sedang berupaya menciptakan sejarah, yaitu mengembangkan vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," kata Taruna.
Sebagai regulator, BPOM melakukan pengawasan secara menyeluruh mulai dari penelitian, pengembangan, uji klinik, produksi, hingga pengawasan setelah produk beredar, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
"Pendekatan ini juga diwujudkan melalui mekanisme pendampingan pengembangan obat baru sehingga regulator hadir sebagai mitra strategis bagi peneliti dan industri," katanya.
Baca juga: BPOM: Vaksin dengue berbasis mRNA RI-China tingkatkan kesehatan global
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.