counter

1,2 juta penduduk Afghanistan mengungsi akibat perang

1,2 juta penduduk Afghanistan mengungsi akibat perang

Seorang perempuan Afghan yang mengungsi duduk di sebelah putranya yang sedang tidur sambil menunggu untuk dipulangkan bersama pengungsi lain kembali ke Afghanistan, di kantor Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB (UNHCR), pinggiran Peshawar, Senin (2/2). (REUTERS/Fayaz Aziz)

Kabul (ANTARA News) - Jumlah penduduk yang mengungsi akibat perang di Afghanistan tahun ini melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2012 menjadi 1,2 juta orang menurut Amnesty International, Selasa.

Dalam laporan berjudul "My children will die this winter: Afghanistan's broken promise to the displaced" (Anak-anakku akan mati musim dingin ini: pengingkaran janji Afghanistan kepada pengungsi), Amnesty menyatakan bahwa hingga April 2016 ada 1,2 juta orang yang mengungsi di dalam negeri, jauh lebih banyak dari tahun 2012 yang tercatat 500.000 orang.

Kelompok pembela hak asasi manusia itu memperingatkan bahwa kurangnya pelayanan dasar mengancam kelangsungan hidup para pengungsi.

"Saat perhatian dunia tampaknya teralihkan dari Afghanistan, kita berisiko melupakan nasib mereka yang telantar akibat konflik," kata Champa Patel, direktur Asia Selatan Amnesty, dalam sebuah pernyataan. 

"Bahkan setelah meninggalkan rumah mereka demi keamanan,  semakin banyak warga Afghanistan yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di negara mereka sendiri, dan berjuang untuk bertahan hidup tanpa tahu kapan semua ini akan berakhir."

Warga sipil semakin terperangkap dalam konflik Afghanistan yang kian memburuk saat Taliban menggencarkan serangan musim semi tahunan mereka, yang dilancarkan bulan lalu terhadap pemerintahan Kabul yang didukung Barat.

Amnesty melaporkan kondisi mengenaskan di kamp-kamp Afghanistan bagi pengungsi dalam negeri, dengan kelangkaan pangan, air dan perawatan kesehatan.

"Bahkan binatang tidak akan tinggal di gubug ini, tapi kami harus," kata Mastan, perempuan 50 tahun yang tinggal di kamp pengungsi Herat, yang dikutip Amnesty dalam laporannya.

"Saya lebih baik dipenjara ketimbang berada di tempat ini: setidaknya di penjara saya tidak harus khawatir tentang makanan dan tempat berlindung."

Farzana, perempuan lain yang tinggal di satu kamp di Kabul, mengatakan: "Ketika kau tidak bisa menyediakan makanan di meja untuk anak-anakmu, itu lebih buruk daripada ditembak dengan senapan."

Amnesty meminta masyarakat internasional dan pemerintah Afghanistan melakukan lebih banyak untuk mengatasi situasi itu.

"Afghanistan dan dunia harus bertindak sekarang untuk mengakhiri krisis pengungsian di negara ini sebelum terlambat," kata Patel seperti dilansir kantor berita AFP.


Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Ulama 3 Negara akan bahas perdamaian di Indonesia

Komentar