Jakarta (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Ciangir, Banten, melibatkan masyarakat setempat untuk mengelola lahan persawahan seluas 8 hektare bersama warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana.

Kepala Lapas Terbuka Ciangir Soesanto Poedji Djatmiko mengatakan ada 40 warga yang terlibat bersama 15 warga binaan mengikuti program pembinaan kemandirian yang fokus dengan ketahanan pangan.

"Di sini ada 40 warga yang dilibatkan. Mereka menggarap sawah bersama warga binaan," kata Tanto, sapaan akrab Soesanto ditemui di Lapas Ciangir, Banten, Kamis.

Tanto mengatakan, sawah di Lapas Ciangir telah dikelola sejak dua tahun terakhir. Jenis padi yang ditanam beragam, sesuai musim dan minat warga, kadang beras jenis IR, dan jenis lainnya.

Dia menjelaskan untuk produksi pagi bisa menghasilkan 10 ton gabah basah saat panen per-musim tanam. Sementara itu, padi tersebut bisa dua kali tanam sehingga pertahun jumlah panen mencapai 20 ton gabah basah.

"Warga yang terlibat tidak diupah, kami pakai sistem bagi hasil. Jadi hasil panen, padinya dibagi dua untuk lapas dan warga," kata Tanto.

Beras yang diproduksi oleh warga binaan selain untuk mencukupi kebutuhan bahan makanan (bama) di Lapas Terbuka Ciangir juga dipasarkan ke sejumlah pasar di Banten dan Jakarta.

Dari hasil penjualan beras tersebut kata dia, warga binaan mendapatkan premi (uang penghasilan) yang ditabung sebagai bekal saat bebas nanti. Sedangkan masyarakat penghasilan berupa beras hasil panen.

"Jadi warga binaan berbaur bersama warga di sawah. Sejauh ini tidak ada kendala, warga dapat menerima dan warga binaan juga bisa beradaptasi," ujarnya.

Tanto menyebutkan bahwa saat ini total jumlah warga binaan Lapas Terbuka Ciangir sebanyak 50 orang, dan akan bertambah lagi sebanyak 20 orang pada Jumat (10/7) untuk ikut pembinaan kemandirian di lapas sehingga totalnya 70 orang.

Menurut dia, warga binaan yang ditempatkan di Lapas Terbuka Ciangir telah melalui asesmen ketat dari Badan Pemasyarakatan (Bapas) untuk mengikuti program pembinaan kemandirian pemasyarakatan.

Rata-rata mereka yang ditempatkan di Lapas Terbuka Ciangir telah menjalani setengah masa pidananya di lapas asal. Setelah dilakukan asesmen dengan hasil tidak ada catatan buruk, berkelakuan baik, maka statusnya turun sebagai warga binaan berisiko rendah, dan di tempatkan di Lapas Terbuka Ciangir untuk mengikuti program pembinaan kemandirian bidang ketahanan pangan.

"Program pembinaan kemandirian ini untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah-tengah masyarakat," ujar Tanto.

Selain sawah, juga dikembangkan budidaya sayuran dan buah-buahan, serta terdapat peternakan ayam petelur, ayam kampung, budidaya domba, dan sapi.

Menurut dia, warga binaan Lapas Terbuka Ciangir dilatih kemandirian lewat program ketahanan pangan. Selain belajar pertanian, juga belajar beradaptasi dengan masyarakat.

Kepala Bapas Ciangir Anjar mengatakan syarat untuk warga binaan menempati Lapas Terbuka Ciangir adalah sudah menjalani asesmen, kasus pidana ringan, dan ada penjamin.

"Mereka di sini penjaminnya harus jelas, bisa orang tua, keluarga dekat, saudaranya. Kalau mereka kabur, bisa kami cari keluarganya," katanya.

Menurut dia, warga binaan yang menempati lapas terbuka tidak tinggal di dalam sel, tetapi berada di blok hunian dan lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

Dia mengatakan warga binaan bebas beraktivitas di luar ruangan dan dijaga oleh petugas, serta dipastikan tidak ada yang melarikan diri. Sanksi bagi yang melarikan diri akan dikembalikan ke lapas asal yang tertutup, sehingga aktivitasnya hanya di dalam sel.

Baca juga: Lapas Ciangir budidaya ayam petelur produksi 860 kg telur per hari

Baca juga: Otto: Kepadatan lapas tak bisa dilihat sebagai keterbatasan kapasitas

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.