Salah satu program unggulan Baznas adalah Rumah Terang

Jakarta (ANTARA) - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berkolaborasi dengan Limar (Listrik Mandiri Rakyat) dalam menyediakan kebutuhan penerangan bagi masyarakat prasejahtera melalui Program Rumah Terang Baznas.

Kolaborasi tersebut memanfaatkan inovasi Limar yang diinisiasi oleh pria asal Bandung, Ujang Koswara, untuk menghadirkan akses penerangan yang lebih layak bagi masyarakat yang masih memiliki keterbatasan terhadap fasilitas listrik.

“Salah satu program unggulan Baznas adalah Rumah Terang. Kami begitu bekerja sama dengan anak bangsa. Kami langsung mempraktikannya dan kita langsung mengamalkannya di daerah Indramayu,” ujar Ketua Baznas RI Sodik Mujahid di Indramayu, Jumat.

Program Rumah Terang Baznas ini menjadi satu dari 13 program prioritas Baznas dalam menjangkau kebermanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah demi kemaslahatan masyarakat tidak mampu.

Baca juga: Program Rumah Terang Baznas ditargetkan jangkau ribuan rumah

Sodik mengatakan program Rumah Terang Baznas didorong mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat penerima manfaat, mulai dari kegiatan belajar anak-anak pada malam hari hingga menunjang aktivitas ekonomi keluarga.

“Harapannya masyarakat semakin cerdas, semakin rajin belajar terutama putra-putrinya, semakin menambah semangat untuk hidupnya, semakin menambah ibadahnya, semakin menambah kerjanya, sehingga secara umum semakin sejahtera,” kata Sodik.

Inisiator Limar Ujang Koswara menyambut baik kolaborasi tersebut dan berharap inovasi penerangan yang dikembangkannya dapat menjangkau lebih banyak keluarga prasejahtera di berbagai daerah.

Menurut Ujang, Program Limar dikembangkan sebagai upaya mengatasi persoalan "tuna cahaya", yakni kondisi masyarakat yang belum memperoleh akses penerangan memadai karena belum terjangkau jaringan listrik, terutama di wilayah terpencil atau remote area.

Baca juga: Kabupaten Indramayu jadi proyek percontohan Rumah Terang Baznas

“Jadi semangatnya untuk memerangi kegelapan, utamanya bagi masyarakat miskin yang belum memiliki akses terhadap listrik,” ujar Ujang.

Ia menjelaskan setiap rumah tangga mendapatkan satu paket instalasi pencahayaan yang terdiri dari panel surya, lima lampu, accu, dan perkabelan.

Lampu yang digunakan dalam program tersebut hanya membutuhkan daya lampu 1 watt, namun menghasilkan tingkat pencahayaan yang diklaim setara lampu 10 watt dengan usia pakai lebih dari 10 tahun.

“Kalau ada pihak yang ingin membantu kaum dhuafa, maka saya ingin menyempurnakannya dengan menerangi rumah itu,” kata Ujang.

Ia mengatakan lampu LED tersebut mulai dikembangkan sejak 2008 dan telah dimanfaatkan di berbagai daerah di Indonesia.

Selain membantu penyediaan penerangan, produksi lampu juga melibatkan kalangan santri di sejumlah pondok pesantren, pemuda, serta mantan narapidana yang telah mengikuti program pembinaan keterampilan.

“Sejak 2008, lampu ini sudah terpasang di 300 ribu rumah. Kami hadir untuk memperkuat program pemerintah membebaskan masyarakat dari kegelapan,” ujar Ujang.

Baca juga: Penerima Beasiswa Baznas harumkan bangsa lewat inovasi briket ketapang

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.