Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18.050-Rp18.120 dipengaruhi faktor global penguatan mata uang regional

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat pagi, bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp18.065 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.128 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan positif terkait kondisi geopolitik antara AS dengan Iran yang menurunkan harga minyak.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18.050-Rp18.120 dipengaruhi faktor global penguatan mata uang regional seiring stabilnya index dollar dan penurunan harga minyak,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Mengutip Sputnik, militer AS menangguhkan serangan terhadap Iran di tengah berlangsungnya proses negosiasi, namun tetap siap melanjutkan operasi militer apabila diperlukan. Washington dilaporkan tetap berkomitmen untuk mengupayakan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dengan Iran.

Namun, para pejabat AS menegaskan bahwa klaim Iran mengenai adanya serangan baru yang dilakukan Washington pada Kamis malam tidak benar.

Sebelumnya, pada Rabu (8/7) dini hari, militer AS melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran.

Sebagai tanggapan, militer Iran melaporkan telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Pemerintah Iran juga menyampaikan bahwa Washington telah melanggar nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan yang sebelumnya disepakati kedua pihak.

“Dari domestik, masih menjadi pemberat rupiah menguat lebih jauh seperti data ekonomi, di antaranya defisit neraca perdagangan, defisit anggaran yang melampaui ekspektasi, dan data penjualan ritel dan keyakinan konsumen,” ungkap Rully.

Tercatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, mengakhiri catatan surplus beruntun selama 72 bulan sejak Mei 2020.

Adapun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada akhir tahun anggaran 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto. Dalam APBN 2026, defisit ditargetkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Penjualan Eceran memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Juni 2026 masih terjaga, sebagaimana terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprakirakan sebesar 221,6. Prakiraan indeks tersebut masih mencatatkan kontraksi, yakni sebesar 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Terakhir, BI mencatat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi diindikasikan tetap terjaga pada Juni 2026, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode tersebut pada level optimis (indeks >100) sebesar 117,8. Namun, apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, IKK Juni 2026 lebih rendah dari bulan Mei 2026 yang sebesar 120,9.

Baca juga: Bea Cukai Nunukan awasi pembawaan uang rupiah dan uang asing

Baca juga: BI sediakan Rp12,24 miliar lewat ekspedisi rupiah berdaulat di Sulteng

Baca juga: Ekonom: Bauran kebijakan bank sentral berpotensi perkuat cadev

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.