Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan bersama para mitra meluncurkan Strengthening Professional Education and Enhanced Policy Framework for Midwifery Development in Indonesia (SPEED) untuk transformasi pendidikan kebidanan, guna memastikan para bidan kompeten sehingga dapat mengurangi angka kematian ibu.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes Yuli Farianti mengatakan di Jakarta, Jumat, Pemerintah berkomitmen menurunkan angka kematian ibu menjadi kurang dari 77 per 100 ribu kelahiran hidup per tahun pada 2029.
“Bidan yang kompeten akan berkontribusi langsung dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, sekaligus memperkuat sistem kesehatan Indonesia," katanya.
Mengutip Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Angka Kematian Ibu (AKI) turun menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup, dari 189 di tahun 2020.
Baca juga: Indonesia dan UNFPA kerja sama tingkatkan daya saing SDM
"Ini berarti setiap 1-2 jam seorang ibu di Indonesia kehilangan nyawanya akibat komplikasi terkait kehamilan, persalinan, atau masa nifas. Meskipun Indonesia telah mencapai cakupan yang tinggi dalam hal pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil, Angka Kematian Ibu (AKI) tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang krusial," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya bersama Korea International Cooperation Agency (KOICA), dan United Nations Population Fund (UNFPA) menginisiasi SPEED.
Proyek SPEED yang akan berlangsung hingga 2030 ini ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada sekitar 8.280 mahasiswa dan instruktur kebidanan, sekaligus secara tidak langsung mendukung kesejahteraan jutaan keluarga di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Proyek SPEED berfokus pada dua pilar mereformasi pendidikan pra-jabatan di 12 Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes agar memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh International Confederation of Midwives (ICM), serta membangun platform nasional digital untuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Menurut dia, hal ini memastikan tenaga kerja bidan nasional yang berjumlah lebih dari 358.892 orang didukung, diperbarui, dan siap memberikan layanan yang memenuhi tolok ukur global.
Baca juga: Kemendukbangga: Hari Kartini momentum perkuat kolaborasi tekan AKI-AKB
"Kami meyakini bahwa investasi pada pendidikan bidan merupakan investasi bagi masa depan bangsa," katanya.
Dia berharap langkah tersebut dapat menjadi tonggak penting dalam meningkatkan mutu dan profesionalisme bidan Indonesia, sehingga setiap ibu, di mana pun berada, memperoleh pelayanan yang aman, berkualitas, dan berkesinambungan.
Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia Hassan Mohtashami mengatakan, bidan adalah garda terdepan dalam mengurangi kematian ibu.
"Dengan menstandardisasi pendidikan kebidanan dan menciptakan ekosistem digital yang permanen untuk pertumbuhan profesional, kita memastikan setiap ibu menerima layanan aman dan berkualitas tinggi yang pantas mereka dapatkan," ujar Hassan.
Senada, Country Director KOICA Indonesia Office Kim Hyo Jin mengatakan, pihaknya bangga bermitra dengan Kemenkes dan UNFPA untuk memperkuat sistem pendidikan kebidanan di Indonesia.
“Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu, dan langkah berikutnya adalah memastikan setiap ibu memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dengan baik,” katanya.
Baca juga: PKK Jateng luncurkan "Kencan Bumil" tekan angka kematian ibu dan bayi
Baca juga: Data ungkap kematian ibu hamil dan kekerasan anak masih tinggi
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.