Hal yang menarik dipikirkan justru kesadaran kita ketika takut kehilangan jiwa kemanusiaan, manakala terlalu mengejar kebesaran.

Surabaya (ANTARA) - Dalam "Supercamp Menulis" di SSC Ponorogo, Jawa Timur, (3-4/7/2026) yang diikuti para guru sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri, seorang peserta bertanya, "Bagaimana cara menulis yang baik?"

Spontan, saya menjawab, "Tulislah sesuatu yang dialami. Bermuara dari pengalaman jiwa profesi, perkaya dengan rasa dan hati, sehingga tulisan bernyawa. Tulisan bernyawa jauh lebih berharga daripada sekadar pesan-argumentasi dalam logika dan paradigma belaka."

Para peserta tampak antusias dan menemukan ruang permenungan baru yang selama ini barangkali belum pernah ditemukan. Saya menyebutnya pendekatan menulis ini sebagai "belajar mendalam (deep learning) dalam menulis".

Pendekatan belajar mendalam bermuara pada bagaimana peserta tidak saja mengetahui masalah tetapi benar-benar menyadari dan memaknai materi yang dihadapi hingga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena peserta para guru, berdaya guna bagi pembiasaan dan pengembangan profesi keguruannya.

Belajar mendalam sebagaimana kebijakan Kemendikdasmen hakikatnya sebuah proses pembelajaran yang bersandar pada tiga pilar, yakni berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning), dan menggembirakan (joyful learning).

Dalam praktik pelatihan menulis para guru, belajar mendalam akan memberikan eksplorasi pengalaman profesi dalam ekspresi tulisan yang tidak saja berkesadaran tetapi bermakna bagi kehidupan profesi yang dijalani dengan eksploratif dan kreatif.

Baca juga: Berkebun dengan cinta, Fatihah, dan selawat


Model menantang

Dalam praktik belajar mendalam untuk memulai menulis, berikut pengalaman eksploratif menarik berbasis tiga langkah penting yang bisa dimodeli.

Pertama, pentingnya eksplorasi ide dan bahan berbasis pengalaman nyata, apa yang dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasakan. Tahap ini merupakan yang paling penting sebab di sinilah pangkal tulisan “dimasak” via kematangan jiwa dan kecerdasan pikiran.

Kemampuan analisis diperlukan, argumentasi berkualitas data dan fakta, serta bagaimana bahan tulisan mampu menemukan nilai kesadaran agar mampu disuguhkan secara ekspresif, mengalir, berkesadaran, dan bernas. Tulisan bernyawa, sejatinya bermuara dari hal-hal demikian.

Berikut ini adalah contoh eksplorasi proses berkesadaran penulis yang bisa direnungkan.

Ada peserta bertanya, "Mengapa tidak membangun sesuatu yang lebih besar? Mengapa tidak mengejar kedudukan lebih tinggi? Mengapa tidak mendirikan pesantren besar, lembaga pendidikan megah, perusahaan besar, atau menjadi tokoh yang dikenal banyak orang? Kok kita penting membangun budaya dan peradaban melalui tulisan?"

Saya tidak segera menjawab. Sebab, pertanyaan-pertanyaan demikian tidak cukup dijawab dengan logika. Ia harus dijawab oleh perjalanan hidup dan pengalaman yang berkesadaran penuh makna. Perlu dijawab dengan tulus hati, suci jiwa, dan kedalaman rasa.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.