...B50 layak diterapkan tetapi harus dikawal melalui kontrol mutu dan pemantauan teknis yang ketat
Medan (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Tulus Burhanuddin Sitorus menyebutkan bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak kelapa sawit 50 persen atau biodiesel 50 persen (B50) layak digunakan untuk kendaraan diesel dan genset.
"B50 layak diterapkan, tetapi harus dikawal melalui kontrol mutu dan pemantauan teknis yang ketat.”katanya di Medan, Jumat.
Uji teknis B50 sudah dilakukan pada enam sektor utama seperti otomotif, alat berat pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset atau pembangkit listrik, dan perkeretaapian.
Hasilnya, sekitar 80–90 persen parameter uji menunjukkan hasil baik, dan pada alat berat dengan sekitar 900–1.000 jam operasi, belum ditemukan gangguan signifikan.
Namun menurut dia, hasil positif tersebut tidak otomatis menjadi jaminan untuk semua mesin di semua kondisi operasi.
Populasi mesin diesel di lapangan sangat beragam dari sisi usia, teknologi injeksi, kebersihan tangki, kondisi filter, material selang karet, serta pola operasi. Karena itu, B50 dapat dinilai layak digunakan, tetapi bukan berarti tanpa kebutuhan pemantauan.
Baca juga: Pengguna jalan harap B50 dapat kurangi polusi dan harga lebih murah
“B50 aman sepanjang memenuhi spesifikasi, didistribusikan dengan benar, dan digunakan pada mesin yang dirawat sesuai standar," katanya.
Secara energi per liter, lanjut dia, biodiesel memiliki nilai kalor sedikit lebih rendah dibanding solar fosil. Data uji menunjukkan kenaikan konsumsi sekitar 1–3% dibanding B40, dengan salah satu pengujian alat berat mencatat kenaikan sekitar 3,12 persen
“Dari sisi liter per kilometer atau liter per jam, B50 cenderung sedikit lebih boros, bukan lebih irit,” ujar Prof. Tulus.
Namun ia mengingatkan, kenaikan ini relatif kecil dan perlu dilihat bersama harga eceran, kestabilan pasokan, serta biaya perawatan. Di sisi lain, manfaat devisa dan substitusi impor secara nasional tetap bisa sangat signifikan.
Bagi pemilik genset dengan tangki cadangan, daya tahan bahan bakar adalah soal penting. B50 secara teknis dapat disimpan dengan aman apabila tangki bersih, tertutup, kering, dan sirkulasi stoknya baik.
Baca juga: Airlangga sebut program B50 bisa hemat devisa Rp177 triliun
Namun dibanding solar fosil, biodiesel lebih sensitif terhadap air, oksidasi, dan pertumbuhan mikroba karena sifat FAME yang lebih higroskopis.
“Istilah "basi" dalam konteks ilmiah lebih tepat disebut degradasi oksidatif, pembentukan sedimen, kenaikan keasaman, atau kontaminasi air-mikroba," katanya.
Untuk tangki cadangan genset, ia menyarankan agar bahan bakar tidak disimpan terlalu lama tanpa rotasi, serta dilakukan pemeriksaan air di dasar tangki dan kondisi filter sebelum operasi beban penuh.
Dari sisi emisi, B50 umumnya memberikan perbaikan tertentu. Kandungan oksigen dalam biodiesel membantu pembakaran lebih bersih, sementara kandungan sulfurnya relatif rendah.
Emisi partikulat atau asap hitam, hidrokarbon tidak terbakar, dan karbon monoksida berpotensi menurun dibanding solar fosil murni — kabar baik bagi kesehatan pernapasan masyarakat di sekitar jalur transportasi padat.
Meski begitu, Prof. Tulus menegaskan B50 bukan bahan bakar nol emisi.
Baca juga: Sopir truk merasakan manfaat B50, mesin lebih bertenaga
"Mesin tetap menghasilkan gas buang, dan emisi NOx dapat dipengaruhi beban, temperatur pembakaran, serta kalibrasi mesin. Perawatan mesin dan uji emisi tetap wajib," katanya.
Dalam kesempatan itu ia juga menekankan beberapa langkah sederhana namun penting yang perlu disiapkan pengguna mesin diesel, seperti bersihkan dan periksa tangki bahan bakar, terutama yang banyak sedimen, siapkan filter bahan bakar cadangan dan periksa lebih sering selama masa transisi, karena biodiesel dapat melarutkan deposit lama di tangki.
Kemudian kuras water separator secara rutin, terutama pada genset dan kendaraan yang jarang dipakai, periksa selang, seal, dan gasket — ganti bila sudah retak atau getas, karena material lama bisa kurang kompatibel dengan biodiesel tinggi.
Selanjutnya gunakan bahan bakar dari saluran resmi dan terapkan prinsip first-in first-out (FIFO) untuk stok cadangan
Untuk genset, lakukan uji operasi berkala agar bahan bakar tidak terlalu lama diam di tangki
"Buat catatan konsumsi, jam operasi, penggantian filter, dan keluhan mesin selama 1–2 bulan pertama. Data ini akan membantu membedakan masalah akibat bahan bakar, perawatan, atau kondisi mesin yang memang sudah menurun," katanya.
Baca juga: Akademisi sebut B50 atasi kelangkaan solar, peluang besar bagi Kalteng
Pewarta: Juraidi
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.