Banjarbaru (ANTARA) - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengevaluasi penyelenggaraan ibadah haji di Kalimantan Selatan guna memitigasi risiko kesehatan jamaah calon haji (JCH) pada musim haji mendatang setelah sekitar 70 persen jamaah Embarkasi Banjarmasin masuk kategori berisiko tinggi.
“Evaluasi menyeluruh diperlukan sebagai dasar menyempurnakan kualitas pelayanan kepada jamaah pada musim haji berikutnya, khususnya pemeriksaan kesehatan,” kata Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf pada rapat Evaluasi dan Penguatan Layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji Embarkasi Banjarmasin, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat.
Menurut dia, seluruh data penyelenggaraan haji harus menjadi bahan perbaikan sistem pelayanan, mulai dari penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pembagian peran antarpetugas, penguatan mitigasi risiko, koordinasi lintas sektor, hingga peningkatan standar pelayanan agar penyelenggaraan ibadah haji semakin efektif dan aman.
“Saya mengajak kita semua untuk terbuka dalam evaluasi. Mari kita perbaiki seluruh kekurangan, bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memperbaiki pelayanan haji di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Baca juga: Menhaj: Layanan haji 2026 di Embarkasi Banjarmasin cukup bagus
Ia menyebutkan Embarkasi Banjarmasin pada musim haji 1447 Hijriah telah melayani 19 kelompok terbang dengan total 6.715 orang yang didukung 76 petugas. Seluruh proses keberangkatan hingga pemulangan jamaah berlangsung dengan baik dan menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji pada tahun mendatang.
Meskipun demikian, Irfan menyoroti tingginya jumlah jamaah berisiko tinggi di Embarkasi Banjarmasin, yakni sebanyak 4.580 orang atau hampir 70 persen dari total jamaah masuk kategori berisiko tinggi, serta masih terdapat jamaah yang wafat di Arab Saudi akibat gangguan pernapasan, infeksi, serta penyakit jantung.
Oleh karena itu, ia meminta jajaran Kemenhaj di daerah memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit agar pemeriksaan kesehatan JCH mampu menghasilkan pemetaan risiko yang akurat sebagai dasar penanganan sejak sebelum keberangkatan, bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi.
Selain penguatan mitigasi kesehatan, dia menegaskan pentingnya menjaga integritas dalam penyelenggaraan ibadah haji, karena seluruh temuan selama pelaksanaan haji akan dievaluasi secara menyeluruh dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola pelayanan yang profesional, bersih, dan akuntabel.
Baca juga: Menhaj resmikan gedung baru Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin Kalsel
“Kami mengapresiasi seluruh petugas haji yang telah mendukung kelancaran operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi seluruh pemangku kepentingan dan menjadi pijakan untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kepada jamaah Indonesia pada musim haji berikutnya,” ujar Menhaj Irfan.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.