Moskow (ANTARA) -

Direktur Departemen Isu-Isu Eropa Kementerian Luar Negeri Rusia Vladislav Maslennikov menilai negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menggunakan klaim bahwa Rusia merupakan ancaman sebagai alasan untuk membenarkan persiapan aliansi itu menghadapi konflik berskala besar.

Dalam wawancara dengan RIA Novosti, Maslennikov menanggapi hasil KTT NATO baru-baru ini di Ankara dengan mengatakan bahwa ini bukan kali pertama NATO menyebut Rusia sebagai "ancaman".

Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut pertama kali dimunculkan pada 2022. Kini, menurutnya, NATO mulai menambahkan bahwa ancaman dari Rusia bersifat "jangka panjang".

Maslennikov mengatakan narasi tersebut sejak saat itu terus dibahas di berbagai tingkatan.

"Hal ini digunakan untuk membenarkan seluruh persiapan agresif blok tersebut menghadapi konflik besar, peningkatan belanja militer, serta penguatan kapasitas industri pertahanan," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa NATO melalui peningkatan anggaran militer telah memicu militerisasi global dan perlombaan senjata.

Putin juga menilai langkah tersebut dilakukan dengan menggunakan klaim yang menurutnya tidak benar mengenai dugaan ancaman dari Rusia.

Ia mengatakan narasi tersebut dimanfaatkan oleh kalangan elite Barat untuk menarik lebih banyak dana dari para pembayar pajak sekaligus menjelaskan berbagai kesalahan dalam pengelolaan ekonomi mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia berulang kali menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya aktivitas NATO dan penambahan kekuatan militer aliansi itu di dekat perbatasan barat Rusia.

Pemerintah Kremlin menyatakan bahwa Rusia tidak mengancam negara mana pun, namun tidak akan mengabaikan tindakan yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingan nasionalnya.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: Lima anggota NATO tambah anggaran belanja pertahanan

Baca juga: Diplomat: NATO akan terus jadi ancaman keamanan Rusia

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.