Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar lima puluh ribuan jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan
Makassar (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menyebut sebanyak 50.342 warga yang tersebar di enam kecamatan dari total 15 kecamatan di kota itu berpotensi mengalami dampak kekeringan pada musim kemarau.
"Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar lima puluh ribuan jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan," ujar Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar di Makassar, Sabtu.
Dari jumlah tersebut, lanjut dia, diperkirakan sejumlah warga mulai merasakan dampak secara langsung kekeringan, terutama mereka yang selama ini mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih.
Berdasarkan hasil kajian cepat, kata dia, terdapat 173 titik lokasi terdampak kekeringan tersebar di enam kecamatan yaitu Kecamatan Ujung Tanah dengan lima kelurahan terdampak di 17 titik. Kemudian Kecamatan Tallo dengan empat kelurahan di 36 titik. Lalu Kecamatan Biringkanaya dengan empat kelurahan di 58 titik.
Baca juga: Pemkot Makassar siapkan 5 juta liter air setiap hari untuk warga
Disusul Kecamatan Tamalanrea dengan enam kelurahan dengan 27 titik, Kecamatan Panakukang dengan 6 titik, dan Kecamatan Manggala dengan empat kelurahan di 29 titik. Total terdampak sebanyak 27 kelurahan. Dari jumlah itu 12.717 rumah tinggal dengan 50.342 jiwa dari 14.564 Kepala Keluarga (KK) mulai merasakan kekeringan.
Merespons hal tersebut pihaknya melakukan intervensi penanganan dengan prioritas untuk masyarakat yang bergantung pada sumber air tanah, karena kelompok inilah yang mengalami penurunan ketersediaan air paling signifikan.
Upaya yang kini dilakukan menyiapkan armada mobil bak terbuka empat unit, penyediaan 57 tandon air dan empat pompa mesin air, serta 180 personel diturunkan membantu warga.
Baca juga: Strategi Sulsel hadapi ancaman kekeringan untuk ketahanan pangan
Sementara wilayah yang masih memperoleh pasokan air dari jaringan PDAM masih berada dalam kondisi relatif aman dan belum menjadi prioritas utama penyaluran bantuan air bersih.
Meski demikian, kata dia, kondisi tersebut terus dipantau secara intensif. Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan.
"Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan. Untuk itu langkah antisipatif dan kesiapsiagaan terus kami lakukan untuk menghindari meluasnya dampak kekeringan terhadap masyarakat," ucap Fadli Tahar.
Baca juga: BNPB imbau kesiapsiagaan atas peringatan cuaca ekstrem di 26 provinsi
Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.