Buku-buku yang seperti ini perlu kita sampaikan pada saat Muktamar maupun Munas NU

Jakarta (ANTARA) - Rais Syuriyah PBNU Abdul Ghofur Maimun menjelaskan kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa karya Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustofa dapat dikembangkan atau menjadi rujukan bagi Bahtsul Masail saat pelaksanaan Muktamar NU.

“Isu-isu dalam buku itu perlu mendapatkan tempat yang semestinya,” kata Gus Ghofur, sapaan Abdul Ghofur Maimun, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan Gus Ghofur itu disampaikan saat peluncuran dan Bedah Kitab di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Peluncuran tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh NU yang menilai kitab itu memberikan kontribusi penting bagi pengembangan fikih kontemporer.

Gus Ghofur mencontohkan pelaksanaan Muktamar NU yang kerap pembahasan isu-isu Bahtsul Masail kurang menjadi perhatian dibandingkan dinamika pemilihan Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam PBNU.

“Buku-buku yang seperti ini perlu kita sampaikan pada saat Muktamar maupun Munas NU,” kata dia.

Baca juga: Waketum PBNU ajak kiai hingga akademisi hidupkan tradisi menulis kitab

Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.

Salah satu pembahasan utamanya mengulas metodologi pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU yang menekankan pentingnya memahami tujuan syariat (maqashid syariah), kondisi sosial, adat istiadat, hingga perkembangan zaman sebelum ditetapkannya sebuah fatwa.

Senada dengan Gus Ghofur, Mustasyar PBNU Said Aqil Siroj memandang kitab tersebut menjadi ikhtiar penting dalam menghidupkan kembali semangat keilmuan pesantren yang mendalam, bersanad dan membumi, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dangkal.

“Di tengah derasnya informasi teknologi yang serba digital dan dangkal, maka membuat satu rujukan yang berakar kokoh dalam satu bidang keilmuan seperti kitab ini merupakan kebutuhan mendasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Baca juga: Hari pertama kerja, Pj Ketum PBNU KH Zulfa Mustofa tancap gas

Ia menilai karya Kiai Zulfa juga mengingatkan NU tidak hanya berkutat pada urusan administratif organisasi, tetapi juga bertumpu pada khazanah keilmuan yang menjadi ruh perjuangannya.

Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus penulis kitab Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab sebagai bagian ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu dan membangun peradaban Islam.

“Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat,” ujar Kiai Zulfa.

Menurutnya, sejak masa awal Islam hingga berkembang di Nusantara, kemajuan peradaban tidak hanya ditopang oleh lahirnya para ulama yang alim dan berakhlak, tetapi juga oleh karya-karya keilmuan yang mereka tinggalkan.

Baca juga: Waketum PBNU paparkan keistimewaan ulama masa lalu

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.