ini adalah KEK yang memuat industri atau pabrik-pabrik manufaktur yang berkaitan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah, pengolahan mineral dan industri berteknologi tinggi seperti elektronika, petrokimia dan EV
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai perluasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis industri mendukung kebijakan hilirisasi pemerintah.
Hal ini menyusul tiga KEK berbasis industri yaitu KEK Gresik, KEK Kendal dan KEK Galang Batang yang mengajukan permohonan perluasan lahan serta pengembangan kawasan dengan rata-rata dua kali lipat dari luas eksisting, yang bertujuan mengakomodasi permintaan investasi baru.
“Saya kira perluasan tiga KEK ini sangat bagus, ya, kalau memang ini untuk mengakomodasi lonjakan investasi,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.
“Karena kalau melihat dari ketiga KEK, ini adalah KEK yang memuat industri atau pabrik-pabrik manufaktur yang berkaitan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah, pengolahan mineral dan industri berteknologi tinggi seperti elektronika, petrokimia dan EV,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Faisal mencontohkan KEK Gresik erat dengan industri metal/smelter, elektronik, kimia, dan energi.
Sementara, KEK Galang Batang yang fokus di industri pengolahan mineral (bauksit) dan produk turunannya.
Pun dengan KEK Kendal dikenal sebagai pusat pengembangan industri berbasis ekspor dan teknologi termasuk kendaraan listrik (EV).
Baca juga: Ekonom: Iklim investasi kondusif penentu PFII himpun investasi global
Baca juga: CORE: Rilis laporan keuangan Danantara perkuat transparansi negara
“Jadi kalau memang ada kebutuhan perluasan lahan karena ada peningkatan investasi di kawasan industri tersebut, tentu saja sangat bagus untuk mendorong industrialisasi kita,” kata Faisal.
Ia menambahkan karakteristik investasi manufaktur sendiri membutuhkan lahan yang cukup luas.
Sehingga, lanjutnya, perluasan KEK diharapkan dapat membantu ekspansi dan untuk menggaet investasi yang lebih besar, tapi juga termasuk fasilitas di dalamnya.
“Seperti kemudahan dalam hal fasilitasi ekspor-impor yang kemudian itu artinya mendorong industri yang bukan hanya berorientasi pasar dalam negeri tapi juga pasar ekspor,” ujar Faisal.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu memperhatikan korelasi dari tambahan investasi terhadap penciptaan lapangan kerja yang berkualitas di dalam negeri.
Faisal menilai perlu adanya satu indikator yang menjadi acuan untuk mengontrol kualitas investasi, termasuk di antaranya indikator jumlah tenaga kerja domestik yang diserap.
“Jadi kalau selama ini, kan, hanya nilai investasi yang selalu menjadi indikator. Nah, di sini mestinya juga kualitas dari investasi yang masuk, termasuk seberapa besar lapangan kerja yang diciptakan untuk masyarakat dalam negeri, domestik dan juga transfer of technology,” kata Faisal.
“Serta pelibatan daripada pelaku ekonomi atau usaha lokal ke dalam apa yang terintegrasi dengan industri manufaktur dari investasi baru tersebut,” ujarnya menambahkan.
Baca juga: CORE dorong hilirisasi kelapa jadi fokus program perkebunan rakyat
Baca juga: CORE: Jaringan irigasi jadi kunci jaga produksi pangan hadapi El Nino
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.