Ketika kolaborasi menjadi fondasi utama, sekolah negeri dan sekolah swasta tidak lagi dipandang sebagai dua kutub yang saling bersaing

Surabaya (ANTARA) - Deretan orang tua yang berusaha mendapatkan kursi di sekolah negeri selalu menjadi pemandangan yang berulang setiap musim penerimaan murid baru. Persaingan berlangsung ketat, sementara daya tampung sekolah negeri memiliki batas yang tidak mungkin diperluas dalam waktu singkat.

Di sisi lain, masih ada anggapan bahwa sekolah negeri merupakan satu satunya pilihan terbaik, sedangkan sekolah swasta hanya menjadi alternatif ketika kesempatan itu tidak tercapai.

Cara pandang seperti itu sesungguhnya sudah semakin sulit dipertahankan. Perkembangan pendidikan menunjukkan bahwa kualitas sekolah tidak lagi ditentukan oleh status penyelenggaranya, melainkan oleh mutu pembelajaran, kepemimpinan sekolah, kompetensi guru, budaya belajar, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Fenomena tersebut juga terlihat di Kota Surabaya, Jawa Timur. Setelah seluruh tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 selesai, Pemerintah Kota Surabaya kembali menegaskan bahwa sekolah swasta merupakan bagian penting dalam menjamin hak setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Pesan itu bukan sekadar ajakan, melainkan cerminan perubahan ekosistem pendidikan yang mulai meninggalkan dikotomi antara negeri dan swasta.

Sebagian sekolah swasta bahkan telah menutup pendaftaran jauh sebelum pelaksanaan SPMB dimulai karena seluruh kuota telah terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta terus meningkat seiring hadirnya berbagai program unggulan, penguatan karakter, inovasi pembelajaran, hingga kolaborasi dengan dunia industri maupun perguruan tinggi.

Kenyataan tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran kualitas sekolah semakin bergeser. Orang tua kini tidak hanya mempertimbangkan status sekolah, tetapi juga lingkungan belajar, keamanan, pembentukan karakter, prestasi peserta didik, kemampuan berbahasa asing, literasi digital, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja dan pendidikan tinggi.

Perubahan preferensi masyarakat sejalan dengan arah transformasi pendidikan nasional yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Sekolah dituntut membangun ekosistem yang mendorong kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, serta penguatan karakter sebagai bekal menghadapi tantangan abad ke 21.


Kolaborasi pendidikan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.