Kisah garuda dari Kampung Lobo di Kaimana

Kampung Lobo terletak di Kabupaten Kaimana, Papua Barat yang bila dilihat di peta terletak di bagian jakun burung Papua. Kampung tersebut berada di Teluk Triton, wilayah perairan Kabupaten Kaimana yang juga menyimpan keindahan seperti halnya Raja Ampat.

"Kampung Lobo menyimpan cerita tentang burung garuda. Bagi masyarakat setempat, itu menjadi kebanggaan karena garuda juga menjadi lambang negara Indonesia," kata Bupati Kaimana Matias Mairuma.

Matias mengatakan masyarakat setempat meyakini bahwa lambang Garuda Pancasila diambil dari burung garuda yang ada di Kampung Lobo.

Cerita burung garuda itu pula yang menarik minat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengunjungi Kampung Lobo dalam rangkaian Ekspedisi NKRI dan Bhakti PMK serta Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Kaimana.

"Menurut Bupati, di sini pertama kali ada garuda yang menjadi lambang Garuda Pancasila. Ada pula cerita tentang kayu timomor yang digunakan sebagai tongkat Bung Karno," ungkap Puan saat itu.

Selama ini, masyarakat Indonesia memang mengenal burung garuda sebagai makhluk mitologis yang bermuara dari keyakinan agama Hindu. Dalam mitologi Hindu, Garuda digambarkan sebagai makhluk setengah manusia dan setengah burung, musuh para naga.

Garuda adalah wahana atau tunggangan dari Dewa Wisnu, salah satu dari Trimurti yang merupakan pemelihara alam semesta.

Kegagahan Garuda kemudian menginspirasi bangsa Indonesia untuk menjadikannya sebagai lambang negara. Negara lain yang menggunakan Garuda sebagai lambang negara adalah Thailand.

Berbeda dengan Garuda dalam agama Hindu yang lebih bersifat mitologis, masyarakat Kampung Lobo meyakini betul keberadaan burung garuda, bahkan jejaknya pun bisa dilihat di kampung itu.

Dilahirkan Manusia
Tokoh adat Kampung Lobo Beni Santos Wariensi menceritakan burung garuda Lobo menetas dari telur yang dilahirkan seorang manusia perempuan yang tinggal di Gunung Warinau.

"Perempuan itu melahirkan dua butir telur. Masing-masing menetaskan burung garuda berwarna hitam dan putih. Namun, yang berwarna putih tidak diketahui keberadaannya," tutur Beni.

Burung garuda yang berwarna hitam itu kemudian tumbuh dewasa dan tetap tinggal di Gunung Warinau. Suatu hari, terjadi banjir di Sungai Urera yang menyebabkan banyak manusia tewas.

"Bangkai manusia yang terbawa banjir itu menjadi makanan burung garuda. Dia mengikuti Sungai Urera sampai kemudian sampai ke Kampung Lobo," paparnya, mengisahkan.

Setelah bangkai manusia yang terbawa banjir habis, burung garuda itu kemudian tinggal di Gunung Emansiri. Kampung Lobo terletak di kaki gunung tersebut.

Karena tidak ada lagi bangkai manusia yang bisa dimakan, burung garuda itu kemudian mulai memangsa penduduk Kampung Lobo. Penduduk Kampung Lobo menjadi resah dan takut dimangsa burung garuda.

"Hingga suatu ketika, datang orang Portugis di Kampung Lobo. Orang Portugis itu kemudian menembak jatuh burung garuda. Bangkainya jatuh di bukit yang berbatasan langsung dengan tebing di pantai," kisahnya.

Penduduk Kampung Lobo pun bersuka ria dengan tewasnya burung garuda. Di tempat burung garuda itu jatuh, kemudian dibangun tugu dengan patung garuda di puncaknya.

"Waktu saya kecil dulu, tulang belulang burung garuda masih bisa ditemui. Namun, diambili oleh orang asing sampai akhirnya tidak bersisa sama sekali," tutur Beni.

Cerita tentang burung garuda itu tidak hanya berbekas di benak masyarakat Kampung Lobo, tetapi juga masyarakat Kabupaten Kaimana lainnya. Burung garuda kemudian juga diambil sebagai lambang Kabupaten Kaimana.

"Kami di Kaimana, sangat bangga memiliki lambang yang sama dengan lambang negara Indonesia, yaitu burung garuda," kata Bupati Matias Mairuma.

Benteng Belanda
Selain cerita tentang burung garuda, Kampung Lobo juga menyimpan cerita pendaratan bangsa Belanda di tanah Papua. Di kampung tersebut terdapat tugu dan puing-puing bekas benteng Belanda.

Pada tugu tersebut terdapat sebuah prasasti berangka tahun 1828 hingga 1835 bertuliskan "Ter Herinnering Aan de Overleden Militairen van de Bezetting van Fort du Bus" yang kurang lebih artinya "mengenang para tentara yang meninggal di Benteng du Bus".

"Bila melihat angka tahunnya, itu lebih dahulu daripada pendaratan orang Belanda di Timika. Jadi kami meyakini Belanda mendarat pertama kali di Papua di Kampung Lobo," ucap Matias.

Matias mengatakan, menurut cerita orang-orang tua, orang Belanda yang tinggal di Kampung Lobo mengalami wabah malaria sehingga akhirnya memilih pergi. Setelah pergi dari Kampung Lobo, baru orang Belanda mendarat di Timika dan membangun permukiman.

"Selama ini Timika lebih dikenal sebagai lokasi pendaratan orang Belanda. Padahal, sebelum ke Timika, mereka sudah lebih dulu mendarat di Kampung Lobo yang ada di Kabupaten Kaimana," tuturnya.

Dengan adanya cerita tentang burung garuda dan peninggalan sejarah pendaratan orang Belanda, Kampung Lobo sebenarnya menyimpan potensi wisata sejarah. Apalagi, Teluk Triton sendiri menyimpan potensi wisata yang disebut-sebut lebih indah daripada Raja Ampat.

Karena itu, tidak ada salahnya bila pelancong yang mengunjungi Teluk Triton mampir ke Kampung Lobo. Infrastruktur untuk merapat ke Kampung Lobo dari arah laut pun tersedia dengan adanya dermaga rakyat yang diresmikan pada 18 Desember 2014.

Dari Pelabuhan Kaimana, Kampung Lobo bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan menggunakan perahu motor berkecepatan tinggi.

Matias mengatakan Teluk Triton memang masih kalah populer bila dibandingkan Raja Ampat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kaimana bersama masyarakat setempat sedang berupaya mengembangkan kawasan tersebut agar menjadi salah satu tujuan wisata.

"Kaimana memiliki beberapa potensi pariwisata dan perikanan. Dari kurang lebih 61.000 penduduk, 70 persen tinggal di kawasan pantai," jelasnya.

Mathias mengatakan saat ini pihaknya masih terus mempersiapkan masyarakat setempat untuk bisa mendukung dan hidup dari pariwisata dan perikanan.

"Yang pertama perlu disiapkan adalah masyarakat agar tidak sampai terjadi penolakan bila potensi-potensi di Kaimana sudah berkembang," imbuhnya.

Oleh
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar